Sabtu, 10 Januari 2009

Profil Majelis sOcrates

Oleh : A_dhie

Majelis sOcrates lahir dari sebuah
kegelisahan & kontemplasi mendalam di tanggal 21 Mei 2008, tentang realitas kehidupan
mahasiswa STAI atas rapuhnya daya kritis dan
gencarnya hegemoni hedonism yang kian menggerogoti greget intelektual mahasiswa. Diam berarti membiarkan persoalan berlarut tanpa penyelesaian. Kita mesti bergerak maju. Hanya satu kata : Perubahan. Harapan kini telah nampak di hadapan mata, di pundak kaum muda.

“Stagnasi berfikir” menjadi borok yang menggerogoti nalar intelektual mahasiswa dewasa ini, dinamika perdebatan pemikiran semakin terkikis, impuls untuk berfikir kristis hanya sebatas utopia yang tak berujung dan pergumpulan selalu terpolarisasi hal-hal yang sarat akan hedonisme yang senyatanya menjadi kausal dari kerasnya virus hedonisme secara cultural. Al-hasil, kreativitas berfikir terjebak dalam culture hedonisme.

Pilologi kata “Majelis Socrates”, Majelis merupakan tempat manusia bersilatul fikri dan menggagas berbagai ide, pergolakan pemikiran sekaligus sebagi langkah awal pelegitimasian eksistensi kita sebagai agen social of change, karena semuanya hanya sebatas “omong kosong” ketika kita mengklaim bahwa kita sebagai insan akademis yang kritis dan dinamis, namun tidak mampu mentradisikan “kajian” sebagai batu pijakan kita dalam mengembangkan kreativitas dan menyelami samudera kehidupan lewat kerangka pengenalan diri kita, yang sejalan dengan pepatah yang diungkapkan oleh Socrates: "Kenalilah dirimu". Yang senyatanya, berkesinambungan dengan ajaran islam “kenaliliah dirimu maka kau akan mengenali Tuhanmu”.

Berpijak atas dasar ajaran islam dan pepatah Socrates, dan greget intelektual yang memaksa sehingga memunculkan suatu inisiasi untuk membentuk suatu wadah kajian lewat “Majelis Socrates”. Hal yang menarik dalam diri Socrates, disamping dia merupakan salah satu figur tradisi filosofis Barat yang paling penting. Dia pun merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para mahasiswa terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail.

Dalam “Majelis Socrates“ ini diharapkan mahasiswa mampu mengenali dirinya dengan selalu mengembangkan potensi yang melekat erat dalam jiwanya sebagai kerangka aktualisasi diri. Serta lebih kreatif lewat menulis dan membuat bulletin sebagai curah gagasan atas greget intelektual yang telah di kembangkan.

Berangkat dari suatu komitmen, semoga “Majelis Socrates” ini di ridhoi Allah SWT dan mampu menyejukan kegerahan intelektual secara riil bukan hanya sebatas konsepsi dan wacana belaka.

Wallahu A’lam Bisshawaab….

Kompleksitas Problematika Bangsa

Oleh : a_dhie [1]

Lengkap sudah penderitaan rakyat indonesia, belum lama naiknya BBM yang menimbulkan pelbagai gerakan penolakan kenaikan BBM, sehingga pemerintah mencoba menyegarkan kegerahan rakyat dengan memunculkan BLT Plus sebagai resolusi kebijakan ini, bahkan regulasi BLT plus inipun dinilai tidak seimbang dengan naiknya harga BBM, mungkinkah program BLTplus ini hanya akal-akalan Jusuf Kalla sebagai moment publikasi GRATIS ABIS!!! agar masyarakat bersimpatik padanya untuk kepentingan Pilpres 2009?
Belum juga konflik BBM & BLT ini mereda, Minggu 01-06-08 tepat memperingati hari pancasila terjadinya bentrok yang diberitakan oleh media-media dengan dinamakan “penyerangan” FPI kepada AKK-BP . Tidak lama setelah itu muncul opini-opini dari publik terjadinya pencemaran pancasila dengan pengerusakan kebinekaan dalam beragama. Opini tersebut berkembang atas dasar demo yang dilakukan HTI yang merasa riskan dengan tingkah laku pemerintah yang membuat regulasi yang dinilai menyengsarakan rakyat indonesia, sudah menjadi rahasia umum bahwa tendensi gerakan HTI adalah penegakan syari’at islam, bahkan mereka menilai bahwa sistem yang ditegakan di indonesia adalah sistem KAFIR, mungkinlah FPI terintervensi oleh HTI yang jelas-jelas riskan terhadap pancasila? sehingga massa AKK-BB yang berdemo yang misi utamanya untuk mendukung dilegalkan ahmadiyah di jadikan musuh bersama dalam demo kemarin, ataukah mungkin seorang rekayator yang ingin menjadikan FPI menjadi musuh bersama? dengan setting-an yang cukup rapi, ataukah hanya oknum-oknum yang ingin mendekontruksi tatanan Negara Indonesia?
Konflik ini mulai merebak kebebagai penjuru daerah di Indonesia, dalam media massa warga NU sleman, surabaya, Cirebon melakukan penggerebegan terhadap markas FPI dengan menuntut agar FPI membubarkan diri karena dinilai sebagai ormas yang RADIKAL , apalagi statement dari Habib Rizieq yang mengklaim bahwa provokator dari semua ini salah satunya adalah Gus Dur, mungkin pijakan ini yang menjadi warga NU Greget terhadap FPI, karena Gus Dur merupakan orang No.1 di NU, bahkan ada yang menganggap Gus Dur adalah seorang Wali. Padahal jelas-jelas FPI melakukan tindak kekerasan, malah menuduh Gus Dur.
Terlepas dari siapa yang salah dan patut disalahkan, yang pasti Dienul Islam merupakan rahmatan lil alamin, dengan ilmuninasinya Nabi Muhammad SAW mampu mengubah wajah dunia, pergolakan dan perseteruan pada zaman nabi mampu teratasi, nabi muhammad SAW memprediksi bahwa umat islam akan terbagi menjadi 73 faksi, dan ini merupakan kesedihan tersendiri bagi nabi sebelum nabi menghembuskan nafas terakhir, pasalnya diversitas yang terjadi dalam faksi islam ini rentan akan konflik yang hanya akan memecah belah islam, padahal islam hanya satu bukan milik faksi manapun. Yang pasti Islam yang benar itu berdasarkan Alquran dan Hadits.

Wallahu A’lam Bisshawaab….
[1] Penulis adalah manusia yang masih belajar di Madrasah Ibnu Araby

Redefinisi gelar "Ummi" bagi Nabi

Oleh : A_dhie

Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang disegani oleh kawan maupun lawan, kharismatik yang terpancar dalam diri beliau menjadikan Islam menembus kesegala penjuru dunia, namun betapa hinanya kita ketika menganggap bahwa beliau memiliki sifat 'Ummi (tidak bisa baca dan tulis), pemhaman ini justeru telah mendarah daging dalam suatu komunitas yang nota bene nya muslim dan sebagai umatnya. Asumsi ini kita dapati sejak kita kecil dan mungkin hingga sekarang ini, secara tidak langsung kita telah menganggap nabi kita bodoh, coba kita telaah dengan jernih bagaimana persepsi kita ketika ada seorang yang tidak bisa "baca tulis"? dan sudah lumrah dalam masyarakat sosial mengkalim bahwa orang tersebut termasuk dalam kategori "bodoh".

Setelah penulis melakukan suatu analisis SWOT tentang problematika ini, secara mayaoritas mereka berasumsi bahwa Nabi dikatakan Ummi karena dikhawatirkan Kitab Suci Al-Qur'an adalah hasil karya beliau, sehingga untuk menjaga keabsolutan Al-qur'an maka Allah menjadikan nabi ini seorang yang Ummi (tidak bisa baca tulis), dan konon katanya dalam keadaan tidak bisa baca tulis itu Nabi menerangkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah lewat A1-Qur'an menggunakan sebuah Intuisi yang dimlikinya (Ilmu Laduni), namun betapa pun tidak Nabi kita akan menjadi bahan cercaan orang, sehingga lunturlah kharismatik yang beliau miliki. Kalau memang benar beliau itu `Ummi maka akan terjadi suatu kontradiksi dengan ajaran Islam yang beliau berikan kepada ummatnya lewat ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-hadits yang mana banyak memerintahkan kita untuk selalu berfikir dan membaca, begitupun sifat "fatonah" (cerdas) yang dimiliki nabi hanya sebatas wacana belaka, lantas bagaimana nabi memimpin umatnya? apalagi kita ketahui bersama bahwa ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan adalah " Al-`Alaq " yang memerintahkan kita untuk membaca. Baik memabaca ayat-ayat suci al-Qur'an maupun ayat-ayat kauniyyah yang memunculkan suatu persepsi bahwa dengan adanya ciptaan yang Maha Dahsyat maka akan memunculkan suatu asumsi adanya Dzat yang Maha Dahsyat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Berkaitan dengan hal ini kita hares cermat dalam menelaah segala informasi yang kita peroleh dengan menggunakan potensi akal Fikir dan Qalbu yang Allah Anugrahkan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita.
Penulis pun pernah memiliki suatu asumsi seperti itu, namun setelah menganalisis lafadz ... Ummi" yang tersurat dalam AI-Qur'an, ternyata makna yang terpendam dalam lafadz "Ummi" tidak sesempit yang kita fikirkan. Dalam Q.S.Al-A'raf ; 157-158, Q.S. Ali Imran ;20 & 75, Q.S.Al­Maidah ; 27, Q.S. Al-An'am ; 151. lafadz Ummi ini berbentuk lafadz "Ummiyyun" yang menunjukan makna Orang-orang Arab yang belum memperoleh Al-Kitab, adapula yang menafsirkan bahwa kata Ummi yang melekat pada diri Nabi ini menunjukan makna keibu-ibuan, yang mana seorang Ibu ini adalah sosok orang yang menyayangi anaknya setulus hati, begitupun sifat yang melekat pada diri Nabi sebagai Pemimpin, beliau teramat menyayangi umatnya, hingga pada saat beliau menghembuskan nafas terakhir beliau berkata "Ummati...Ummati...", sosok kepemimpinan beliau yang mesti kita jadikan sebagai surf tauladan yang baik. Dan jangan sampai kita nodai dengan suatu asumsi yang hanya membuat kharismatik yang beliau miliki menjadi pudar dimata kawan maupun lawan.
Argumentasi lain bahwa Nabi kita pernah menulis surat ajakan untuk menganut Islam yang ditujukan kepada Raja - Raja yang belum masuk islam, namun penulis lebih sepakat bahwa penafsiran Ummi ini ketika diinterpretasikan sebagai orang yang tidak bisa baca tulis itu lebih pada suatu issu publik, demi menjaga keabsolutan Al-Qur'an, namun dalam ayat Al-Qur'an pernah menyiratkan pernyataan bahwa tidak ada seorang penyairpun yang mampu menulis sebuah syair yang menandingi bahasa Al-Qur'an yang begitu indah dan menakjubkan meskipun kuantitasnya hanya satu ayat. Ini menjadikan suatu indikator bahwa Al-qur'an bukanlah hasil karya Nabi apalagi hasil karya penyair. Dogma yang telah lama mengendap dalam diri kita, coba kita dekontruksi dengan suatu pemahaman bahwa sifat Ummi yang melekat pada beliau difahami sebagai bentuk kasih sayang yang tulus dari beliau kepada ummatnya. Disinilah latak kesalahan berfikir kita karena proses berfikir yang berhenti pada tahapan memori saja, tanpa menelaahnya. Sebagaimana yang sexing penulis gembar gemborkan bahwa secara mayaoritas kita hanya menelan mentah-mentah (Taklid) atas segala pemahaman tanpa ada suatu keberanian untuk mengkritisinya

Wallahu A'lam Bisshawaab...

Membongkar Nalar Intelektual

Oleh : a_dHie

"Cogito Ergo Sum " (Aku ada karena aku berfikir) suatu ungkapan Filosuf ulung Renedescartes yang sudah tidak asing lagi kita kenal tentang eksistensi kita sebagai Hayawanun Nathiq. Karena bagaimana pun juga peranan berfikir sangat kental dengan aktivitas kita sehari-hari, konsekwensi kita sebagai mahluk hidup tidak akan luput dengan yang namanya "masalah", dengan masalah kita akan dihantarkan pada kedewasaan, dengan masalah pula kita akan dihantarkan pada keterpurukan, semuanya akan kembali kepada bagaimana kita mampu membuat suatu managemen konflik. Dan tentunya semua itu tidak lepas dari proses berfikir. Dan peranan ilmu logika (Ilmu Mantiq) akan memberikan sumbangsih dalam pencapaian proses berfikir bijak.
Berfikir tektualitas (Normativitas) dan kontekstualitas (Historisitas) merupakan metodologis berfikir secara global dalam memahami suatu objek fakir. Keduanya memiliki sifat yang saling bertentangan,Tekstualitas akan menciptakan budaya taklid sedangkan Kontekstualitas akan menciptakan budaya rasionalism. Namun bila kita mampu menggabungkannya, maka kita telah melakukan proses berfikir bijak, dan itulah yang semestinya menjadi suatu paradigma berfikir seorang mahasiswa khususnya mahasiswa STAT yang sedang gencar digalakan budaya taklid oleh suatu komunitas secara "Under Gruound", yang hanya menjadikan paradigma berfikir kita stagnan, karena kita hanya dituntut untuk menelan mentah-mentah segala pengetahuan yang kita terima tanpa menelaahnya, dengan berfikir bijak kita akan mampu menjauhkan budaya berfikir rasionalisme yang hanya mengedepankan akal semata tanpa merujuk pada sebuah pedoman hidup (Al-Qur'an) yang bersifat Axioma & fundament.
Berfikir bijak akan menciptakan suatu hubungan mesra antara mahasiswa dengan kajian yang bersifat ilmiah secara empiric bukan hanya sekedar teoritis. Yang hanya mematahkan lawannya dengan suatu konsep dalil syara' (kesepakatan ulama) ataupun ayat qathi' yang notabene nya hanya menghegemoni pemikiran kita untuk menelannya secara mentah-mentah dan perlahan-lahan budaya taklid akan tercipta kembali.
Untuk memahami lebih jauh paradigma berfikir, penulis menyelipkan suatu kutipan dari buku `Ilmu Mantiq" tentang Mazahab berfikir
1. Empiricsm (Mazhab Tajribi) ; pengetahuan yang berdasasrkan pada potensi indra lahir semata dalam menelaah objek fakir( Pengetahuan Indra)
2. Rasionalism (madzhab Aqli) ; pengetahaun yang didasarkan pada penggunaan potensi akal semata dalam memahami, meangkaji,menetapkan dan menelaah objek fikir (Pengetahuan Rasional).
3. Cristism (Mazhab nagdhi) ; gabungan antara Empiricsm dan Rasionalism.
4. Mysticism (Mazhab Shufy) ; pemikiran yang didasarkan pada penggunaan potensi nurani dan intuisi (Pengetahuan mistik).
Untuk mengantisipasi dan menghindari Kesalahan berfikir penulis mengutip sebab-sebab itu dalam buku Mantiq
a. Menganggap mudah dalam mengajukan proposisi, tidak teliti dan hati-hati.
b. Membangga-banggakan kemampuan berfikir dan pendapat dirinya sendiri.
c. Mengikuti kecenderungan hawa nafsu.
Penulis menganalisis ke-3 penyebab ini kerap kali muncul dalam frame of thinking mahasiswa, dengan "Truth Of Claim" yang menjadi senjata ampuh dalam mematahkan lawan diskusi.
Dan jauh dari nilai - nilai berfikir bijak, Penulis mendeskripsikan berfikir bijak dengan skema: Session, Persepsi --Memori-Proses berfikir
Dengan skema seperti ini kita akan mampu mengolah dan menganalisis segala informasi keilmuan yang diperoleh, bukan hanya sebatas menerima suatu pendapat yang hanya bersifat relatif. Dan perlu diketahui Ayat Al-qur'an itu bersifat Mutlaq, akan tetapi dalam tataran penafsiran hanya bersifat relatif. Itu hanya sebuah proses ijtihad yang dilakukan ulama, dengan segala keterbatasan yang dimilikmya, sehingga mereka sering mengakhiri suatu pendapatnya dengan "Wallahu 'Alam Bishowab" karena mereka tidak pernah menganggap pendapatnya yang paling benar, dan memberikan peluang kepada kita untuk menelaahnya bukan hanya sebatas menerima tanpa proses analisis.
Wallahu A'lam Bisshawaab...

Retorika Aristoteles

Oleh : A_dhie'

Dewasa ini retorika sebagai public speaking, oral communication, atau speech communication, karena memang hubungan manusia dengan dunia ada dalam kata, dan kata merupakan buah dari pemikiran manusia, Menurut Aristoteles, retorika tidak lain daripada "kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu, metode persuasi yang ada". Dalam tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
Menurut Aristoteles cara untuk mempengaruhi manusia sbb :
1. Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos).
2. Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals).
3. Anda Meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos).
4. Entimem (Bahasa Yunani: "en" di dalam dan "thymos" pikiran) adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena sebagian premis dihilangkan.Sebagaimana Anda ketahui, silogisme terdiri atas tiga premis: ma­yor, minor, dan kesimpulan. Semua manusia mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu Anda pun mempunyai perasaan yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda untuk mengasihi orang-orang yang menderita, saya berkata, "Kasihanilah mereka. Sebagai manusia, Anda pasti mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita ". Ucapan yang ditulis miring menunjukkan silogisme, yang premis mayornya dihilangkan.
5. Dispositio (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.
6. Elocutio (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk "mengemas" pesannya. Aristo­teles memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pe­san, khalayak, dan pembicara.
7. Memoria (memori). Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dengan mengatur bahan-bahan pem­bicaraannya. Aristoteles menyarankan "jembatan keledai" untuk me­mudahkan ingatan. Di antara semua peninggalan retorika klasik, me­mori adalah yang paling kurang mendapat perhatian para ahli retorika modern.
8. Pronuntiatio (penyampaian). Pada tahap ini, pembicara menyampai­kan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan. Demos­thenes menyebutnya hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata hipo­krit). Pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan gerakan­gerakan,anggota badan (gestus moderatio cum venustate).
Wallahu A’lam Bisshawab…

Eskatologi Islam : Melacak Gerak Ruh & Tubuh

Oleh : a_dHie

Dunia adalah stasiun kedua yang dilalui manusia, kata ”Eskatologi” merupakan ajaran teologi yang berkaitan dengan akhir zaman (kematian,hari kiamat, dan kebangkitan).menurut Poulo Freire manusia berhubungan dengan dunia ada dalam kata, dan dengan “kata” manusia dapat membentuk suatu peradaban dan interaksi sosio cultural, melalui kata ini pula akan membentuk suatu sistem informasi, sejalan dengan pendapat Ziauddin Sardar yang mengatakan bahwa hubungan manusia dengan dunia ada dalam informasi yang merupakan kata-kata yang integral.
Diskursus tentang ”komponen manusia” ini menjadi perbincangan sejak zaman socrates, dalam dunia filsafat aliran serba dzat mengatakan bahwa komponen esensial manusia adalah dzat, konsekuensinya manusia berasal dari materi saja, aliran serba ruh mengatakan bahwa esensi manusia adalah ruh, sedangkan tubuh hanya daun kering yang setiap saat akan terjatuh, adapula aliran dualisme memandang manusia ini terbentuk atas ruh dan tubuh. Meskipun aliran dulisme ini sejalan dengan ajaran islam, namun ada suatu diversitas yang prinsipil mengenai hal ini, islam membahas term-term ruh yang melekat pada diri manusia sesuai dengan akhlaq dan keshalehan sosial manusia, hal ini sejalan dengan pendapat Imam Al-Ghazali. Contoh kongkrit, ketika Imam Ja’far Al-Shadiq yang merupakan salah satu eksponen spiritual yang terkenal dan seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, ketika beliau menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Kemudian beliau mengusap wajahnya, betapa kagetnya Abu Bashir ketika melihat term-term yang variasi dalam wujud binatang yang mengelilingi ka’bah, revolusi menifestasi ini berkaitan erat dengan pola tingkah dan laku manusia di alam empirik. Hal ini, menjadi suatu sinyalment bahwa manusia hidup berwajah propaganda antara alam empiris (tubuh) dan alam mistis (ruh). Secara kasat mata alam ruh tidak dapat dicapai, kecuali melalui langkah-langkah spiritual.
Menurut Imam Ali, eksistensi ruh seperti halnya tubuh, dengan adanya comman flatform dalam hal sifat yang melekat pada keduanya. Seperti : hidup,mati, sehat,sakit,bangun dan tidur merupakan sesuatu yang elanvital yang melekat pada tubuh manusia. Namun dalam alam ruh, hidupnya manusia dianalogikan sebagai ilmunya, matinya manusia sebagai kebodohannya, sehatnya manusia sebagai keyakinannya, sakitnya manusia sebagai keraguannya, bangunnya sebagai terjaganya, sedangkan tidurnya merupakan kelalaiannya.
Sosok manusia yang menghiasi pemikirannya dengan keilmuan merupakan manifestasi hidupnya ruh pada dirinya, dengan suatu implementasi munculnya berjuta pertanyaan ditopang dengan melakukan proses kontemplasi sebagai solusi. Kongkritnya, pergolakan pemikiran tersebut sebagai term gerak sejarah alam ruh. Meskipun dengan proses ini manusia terbentur dengan skeptis yang menyebabkan ruhnya sakit, dan obat yang mujarab untuk menyembuhkan sakitnya ruh dengan membaca secara tekstual dan kontekstual ditopang oleh makanan ruhani berupa dzikir. Sehingga manusia akan sehat kembali dengan bentuk keyakinan atas apa yang direfleksikannya, dan sepertinya ini adalah harga mati dan suatu proses yang mesti dilalui manusia. Sedangkan, ketika potensi fikir tidak dimanfaatkan oleh manusia, maka ruh manusia mengalami kematian dengan bentuk kestagnanan berfikir dan akan menciptakan kejumudan dalam literatur sejarah ruh. Ketika kondisi ruh manusia mengalami tertidur maka pada saat itu manusia mengalami kelalaian dan mudah terintervensi, sedangkan bangunnya ruh manusia merupakan sikap terjaganya manusia dalam bertindak, sehingga apa yang akan dilakukan selalu difikirkan secara matang dengan melakukan suatu proses analsis. Kondisi kongkrit ini menjadi suatu hal yang mesti dipilih manusia untuk melangkah mengukir manuskrip sejarah kehidupan alam empirik dan transendental.
Wallahu A’lam Bisshawab.....

Dunia ; Antara Materi & Ide

Oleh : A_dHie’


ALIRAN MATERIALISME :
Materialisme adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi. Materialisme memandang bahwa materi itu adalah primer, sedangkan ide ditempatkan sebagai sekundernya. Sebab materi itu timbul atau ada lebih dulu, kemudian baru ide.
Pandangan materialisme itu berdasarkan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat. Artinya,
Menurut proses waktu: Lama sebelum manusia yang bisa mempunyai ide itu ada atau lahir di dunia, dunia dan alam atau materi ini sudah ada lebih dahulu.
Menurut proses zat: Manusia ini tidak bisa berpikir atau tidak bisa mempunyai ide tanpa ada atau tanpa mempunyai otak. Dan otak itu adalah suatu materi. Otak itu adalah materi, tapi materi atau benda yang berpikir. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada, baru kemudian bisa timbul ide atau pikiran pada kepala manusia.

3 Aliran Pokok Aliran Materialisme :
1. Materialisme mekanik:
Materialisme mekanik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya mekanis. Ajaran materialisme mekanik ialah bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak atau berubah. Geraknya itu adalah gerak yang mekanis, artinya gerak yang yang tetap begitu saja selamanya seperti yang telah terjadi, atau gerak yang berulang-ulang seperti geraknya mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan.

2. Materialisme metafisik:
Materialisme metafisik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya metafisis. Ajaran materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap, tidak berubah selamanya. Tapi seandainya materi itu berubah, maka perubahan itu terjadi karena faktor luar atau karena kekuatan dari luar. Gerak materi itu gerak ekstern atau disebut gerak luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan yang terpisah-pisah, tidak mempunyai dan tidak ada saling hubungan antara yang satu dengan yang lain.


3. Materialisme dialektik:
Materialisme dialektik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya dialektis. Ajaran materialisme dialektik mengajarkan bahwa materi itu selalu saling punya hubungan, saling mempengaruhi, dan saling bergantung antara yang satu dengan yang lain. Bukannya saling terpisah-pisah atau berdiri sendiri. Materi itu juga selalu dalam keadaan gerak, berubah dan berkembang. Bukannya selalu diam, tetap atau tidak berubah.

ALIRAN IDEALISME

Idealisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari ide (gagasan). Idealisme memandang ide itu primer kedudukannya, sedang materei sekunder. Ide itu timbul atau ada lebih dahulu, baru kemudian materi. Segala sesuatu yang ada ini timbul sebagai hasil yang diciptakan oleh ide atau pikiran, karena ide atau pikiran itu timbul lebih dahulu, baru kemudian sesuatu itu ada.
Terhadap adanya pandangan yang demikian itu, Lenin dengan tajam mengkritik idealisme sebagai filsafat yang tanpa otak.
Filsafat idealisme mempunyai dua aliran, yaitu aliran idealisme obyektif dan idealisme subjektif.
Idealisme obyektif: Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik-tolak dari ide universil, ide di luar ide manusia. Menurut idealisme obyektif, segala sesuatu yang timbul dan terjadi, baik dalam alam maupun dalam masyarakat, adalah hasil atau karena diciptakan oleh ide universil.
Idealisme subjektif: Idealisme subjektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan pandangan idealismenya itu bertitik-tolak dari ide manusia atau idenya sendiri. Menurut idealisme subjektif, segala sesuatu yang timbul dan terjadi –baik dalam alam maupun dalam masyarakat– adalah karena hasil atau karena ciptaan oleh ide manusia atau oleh idenya sendiri.

ALIRAN DUALISME
Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme memandang bahwa materi dan ide itu sama-sama primernya. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada persamaan. Materi itu ada karena ada ide atau pikiran. Juga sebaliknya, ide atau pikiran itu ada karena ada materi. Tapi pada hakekatnya, pandangan dualisme yang demikian itu juga idealis, karena pandangan seperti itu tidak lain hanya pada ide, dan tidak ada dalam kenyataan.
Dengan begitu, Filsafat materialisme adalah filsafat yang obyektif. Sebaliknya, filsafat idealisme adalah filsafat yang subyektif karena pandangannya bertitik tolak dari ide atau pikiran.

Wallahu A’lam Bisshawaab……….

Tendesi Relokasi Pasar Rebo terhadap Pendidikan

Oleh : a_dhie

Problematika dalam dunia pendidikan dewasa ini semakin krusial, padahal eksistensi pendidikan sangat berarti dan mempengaruhi maju dan tidaknya suatu Negara, karena Pendidikan mampu mencetak SDM yang berkualitas dalam membangun bangsa, sebab pendidikan merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh orang dewasa untuk mendewasakan orang yang belum dewasa (anak didik), dimana pernyataan ini sesuai dengan Tujuan pendidikan yang mampu mengantar anak didik menjadi manusia dewasa, yakni manusia yang mampu berfikir dan melakukan tindakan atas pilihannya sendiri. Maksud dari pendewasaan adalah proses perkembangan segenap potensi yang tidak terkotak-kotak antara kecerdasan nalar, emosional dan spiritual. Atau tidak terkotak-kotak antara kognitif, affektif dan psikomotorik. Ataupun tidak terkotak-kotak antara fisik dan psikis. Penulis mengutip pernyataan dari John Dewey : "Seluruh Pendidikan dilaksanakan melalui peran individu dalam kesadaran sosial ras nya. Peran itu dimulai dan secara tidak disadari nyaris sejak lahir dan terus berkelanjutan membentuk kemampuan individual, memenuhi kesadarannya, melatib gagasan gagasan dan emosinya. Lesvatpendidikanyang tidak disadari, individu secara bertahap mendapat bagian dari sumber daya intelektual dan moral yang telab dikumpulkan dan moral yang telab dikumpulkan oleb umat manusia. Demikianlah is menjadi pewaris modal untuk membangun peradaban ".
Penulis menganalisis issu publik yang sedang mencuat di kota kita ini yaitu "Relokasi Pasar Rebo", yang memunculkan 2 kubu politik, yang hingga saat ini masih menjadi teka-teki publik, namun yang menjadi sorotan penulis dampak psikis dari proses 'Relokasi Pasar Rebo " Terhadap Pendidikan di Kota Purwakarta yang nota benenya "Pendidikan" dijadikan sebagai salah satu "Basic Corse Purwakarta ". Coba kita telaah secara kritis, bila kita melakukan " Relokasi " satu sisi Penataan Kota Purwakarta menjadi indah, teratur, dan tertib, namun disisi lain Pasar Rebo sebagai "Pasar Tradisional " yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Purwakarta, khususnya masyarakat pedesaan akan berubah menjadi pasar yang nota benenya modem , memang Pemerintah Kabupaten Purwakarta menginginkan suatu tatanan kota yang indah dan lebih berani bersaing dengan kota lain, namun proses relokasi ini akan memberikan biaya yang tidak sedikit yang hares dikeluarkan oleh masyarakat untuk membeli sepetak tanah sebagai lapak dagang, namun ketika masyarakat tidak mampu untuk membelinya, maka yang terjadi melemahnya perekonomian masyarakat, dan ini adalah problem yang imbasnya bukan hanya mengena pada kondisi ekonomi saja, namun berdampak negatif pula terhadap pendidikan kita, karena dalam pendidikanpun dibutuhkan yang namanya biaya (modal), dan secara otomatis proses pendidikan akan terhambat, yang akhirnya 'Basic Course "yang selalu menjadi targetan kota Purwakarta pun akan menjadi sebatas wacana belaka, karena usaha yang dijadikan tumpuan biaya pendidikan nyaris terancam, apalagi disatu sisi pedagang pun mempunyai tanggungjawab penuh terhadap anaknya, yang mayoritas status anaknya masih sekolah.
Disisi lain tidak sedikit masyarakat yang mendambakan suatu 'Revitalisasi Pasar Rebo , agar lebih tertata dan rapih. Dan tidak memberikan resiko yang lebih besar dibandingkan "Relokasi" yang hanya akan membunuh perekonomian masyarakat, meskipun konon katanya ada keringanan biaya yang diberikan pemerintah terhadap pendidikan dengan adanya program BOS, namon setelah penulis mengkaji secara mendalam. ternyata "Perilaku Politik" bukan hanya identik dengan Partai saja, akan tetapi perilaku politik ini secara lambat laun sudah mulni merebak dalam dunia pendidikan. Yang akhimya "Dana Bos "yang menjadi salah satu program pemerintah untuk meringankan beban pembiayaan pendidikan kini dipolitisir dengan mewajibkan siswa untuk membeli buku ataupun pungutan yang justru membebani orang tua yang nota benenya lemah ekonomi. Hal ini dikutip oleh penulis dari "Pikiran Rakyat" yang memberitakan adanya pembayaran menjelang penerimaan siswa baru yang membebani orangtua siswa yang terjadi di salah satu SMA di Purwakarta, mungkin ini contoh kasus yang berhasil terbongkar, namun tidak menutup kemungkinan praktek pungutan pembiayaan semacam ini kerap kali terjadi diberbagai sekolah di Purwakarta khususnya, menyikapi problematika ini Penulis lebih sepakat sekolah melakukan suatu Klasifikasi dalam menyikapi "Pembayaran Wajib" yang dibebankan kepada Orang Tua siswa. Dan memberikan kebijakan dengan mempertimbangkan pembiayaannya antara ekonomi kuat dan ekonomi lemah, sehingga terjadi suatu keseimbangan Biaya Pendidikan, meskipun terkadang dalam relitasnya probelamtika bare pun ikut muncul seiring dengan diusungnya konsep ini. Misal ; peringanan biaya pendidikan bagi siswa yang kurang mampu, terkadang muncul perasaan minder dan malu dalam diri siswa ketika masuk dalam kategori tersebut, sehingga siswa lebih cenderung memilih menyembunyikan kekurang mampuannya dalam hal pembiayaan dan memaksa orang tuanya untuk ikut serta membayar biaya pendidikan yang dianggarkan oleh sekolah, namun terkadang pula muncul sikap orang tua siswa yang nota benenya mampu merasa termarginalkan dan merasa rugi dengan adanya klasifikasi ini, karena hak yang diberikan sekolah itu sama terhadap siswa, sedangkan dalam hal kewajiban lebih cenderung dibedakan. Memang teka-teki ini pun tidak kalah sulitnya menjadi suatu problem yang mesti kita tuntaskan.
Menanggapi problematika ini dibutuhkan kerangka kerjasama yang komprehensip dan berkesinambungan antara Penyelenggara Pendidikan (Pemerintah),Guru, Orang Tua, Siswa didik serta peran serta Masyarakat di lingkungannya agar lebih menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi kita. Mengingat pada tahun 1995 Pendidikan di Negara kita mendapat rangking ke-105 dari 174 Anggota PBB, dengan Human Development Index (HDI) 0,641. keterangan ini menjelaskan bahwa masih rendahnya kualitas pendidikan di Negara kita, meskipun Pendidikan ini merupakan salah satu faktor dari lima faktor yang menentukan HDI, dengan bertolak dari faktor Pendidikan, Pendapatan, Kesehatan, Akses pada informasi,dan Partisipasi rakyat, namun perngaruh pendidikan dalam HDI ini cukup dominan. Dan tentunya agar negara kita mendapatkan prestasi yang lebih baik harus kita mulai dari diri kita dan lingkungan kota kita.
Penulis menyodorkan solusi terhadap problematika ini dengan mengusung konsep refleksi yang dilakukan Penyelenggara Pendidikan (Pemerintah), Guru, Orang Tua, Siswa didik serta peran serta Masyarakat di lingkungannya agar lebih menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi kita. Penulispun lebih memilih "Proses Revitalisasi Pasar Rebo" dibandingkan "Relokasi Pasar Rebo" yang lebih memiliki sedikit resiko khususnya dibidang perekonomian, karena betapa pentingnya kestabilan perekonomian masyarakat bagi pendidikan khususnya di wilayah Purwakarta demi terealiasaikannya 'Basic Course Purwakarta" dan menjadikan SDM yang berkualitas khususnya di kota Purwakarta.

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Gender dalam perspektif sosial

Oleh : a_dhie'

Berawal dari sebuah konsep Emansipasi Wanita yang diusung oleh Pejuang Kaum Wanita Indonesia yaitu R.A.Kartini, sebagai betuk perlawanan terhadap tindakan diskriminasi yang sexing diterima oleh kaurn wanita, terutama dalarn hal pendidikan, menurut beliau seorang wanita diperlukan memiliki pendidikan yang cukup tinggi, karena peranan wanita sebagai seorang Ibu dituntut untuk mendidik anaknya, dan pads masa itu pendidikan hanya diberlaku untuk keturunan ningrat saja, disisi lain adanya diskriminasi yang diusung adat jawa yang membedakan perlakuan hak antara rakyat dan komunitas ningrat, bertolak dari sini R.A. Kartini mencoba mendekontruksi adat yang kental akan hegemoni Belanda, dan tetap berpegang teguh bahwa manusia sederajat dan berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Penulis mengutip pernyataan dari surat yang dibuat oleh R.A. Kartini untuk Prof. Anton dan Ny.Anton pada tanggal 4 Oktober 1905 " Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tetapi karma kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali sebagai kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri kepada tan gannya ; menjadi ibu, mendidik manusia yang pertama-tama ".
Seiring berjalannya waktu,tindakan diskriminasi dalam bentuk penindasan, kekerasan hingga menjadikan kaum wanita termarginalkan oleh kaum laki-laki. Muncul lah suatu konsep barn yaitu Gender, yang merupakan suatu konsep yang diusung oleh kaum wanita kontemporer, gender yang sering disebut "jenis kelamin sosial" yang memunculkan suatu konsep KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender) yang menginginkan kesetaraan antara kaum wanita dengan kaum laki-laki dalam menggunakan potensinya berupa hak-hak kemampuannya secara komprehensip untuk turut serta memberikan kontribusi kepada pembangunan politik, ekonomi dan sosial budaya. dengan konsekwensi tidak keluar dari nilai-nilai kodrati yang dimiliki kaum wanita. Dalam konsep ini pembagian manusia antara laki -laki dan perempuan hanya terletak pada faktor biologis, yaitu pada organ reproduksi berupa menstruasi, kemampuan hamil dan melahirkan. Sedangkan kemampuan seperti bekerja, mengurusi anak, dan mengatur rumah tangga dianggap sebagai bentuk budaya (culture).
Sisi Positif Gender
Gender menjadikan kehidupan wanita menjadi lebih berarti dengan menghancurkan tembok diskriminasi yang muncul dalam kehidupan sosial, karena betapa pun tidak tindakan yang tidak manusiawi sering dialami kaum wanita, Dengan berbekal potensi yang dimiliki kaum wanita mulai bangkit, dan lebih peduli terhadap pendidikan. Dalam ajaran islampun mengajarkan persamaan derajat kaum laki-laki dan kaum wanita, dengan suatu pernyataan yang tersurat dalam Al-qur'an bahwa " Yang paling baik dan paling mulia diantara mereka adalah yang paling kokoh imannya, banyak amal sholeh, dan bertaqwa, bahkan persamaan dalam hal menuntut ilmu pun mendapatkan perlakuan yang sama. Kapasitas kaum wanita dalam Negara dijadikan sebagai penentu dan kelangsungan suatu negra, karena jika dalam suatu negara kaum wanita itu berpredikat sholehah (kesholehan sosial dan ritual) sehingga memiliki kualitas pendidikan yang memadai dalam mendidik seorang anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus negara , maka negara akan semakin kokoh. Sebaliknya, ketika predikat sholehah ini tidak melekat pada komunitas wanita dalam suatu negara, maka hancurlah suatu negara itu, karena memiliki generasi yang berakhlaq buruk dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran islam.
Sisi Negatif Gender
Seining dengan gelombang anus ide kebebasan yang semakin menghantam kaum wanita, yang menginginkan kesamaan fungsi dan perannya dengan laki-laki, sehingga mengakibatkan sebuah tujaun hidup yang berupa karir. apalagi dalam realitasnya pelting dalam dunia kerja bagi kaum wanita lebih besar dibandingkan kaum laki-laki. Terkadang kesusksesan yang diperoleh kaum wanita justeru menjadi boomerang bagi dirinya, dan is pun menjadi dilematis ketika harus memilih antara kelurga dan pekerjaan, menanggapi problematika ini kaum wanita sering terjebak didalamnya, sehingga lebih memilih pekerjaan dibandingkan mengurusi kelurganya, mereka berbondong-bondong menjadi TKI/TKW dengan argumen demi menghidupi keluarganya, yang akhirnya peranan wanita sebagai ibu rumah tangga kini diambil alih oleh suaminya, imbas dari hal ini akan memunculkan sikap suami yang melakukan tindakan Poligamy, dan ternyata jika dianalisis "konsep Polygami " yang dinilai sebagai tindakan "diskriminasi " ini dipicu oleh tindakan kaum wanita sendiri, namun ini merupakan suatu konsekuensi logis.
Penulis menganilis Pergeseran pemaknaan gender ini dipicu oleh peradaban kapitalis-sekuler yang hanya tertuju pada kebahagiaan yang bersifat materi belaka, dengan sikap hedonisme yang secara under ground mulai merebak dalam dinamika sosial masyarakat yang hanya menempatkan materi (uang) sebagai tolak ukur produktivitas, pemikiran ini telah menghegemoni masyarkat untuk berkreativitas demi mendapatkan materi sebanyak-banyaknya tanpa membatasi antara halal dan haram, dan tindakannya akan lebih didomonasi atas hawa nafsunya. Sehingga terjadilah degradasi moral, pergaulan bebas yang dijadikan sebagai hal yang dianggap lumrah dengan mengatas namakan HAM. Produk lain dari permainan kapitalis ini dengan mengadakan suatu kontes kecantikan, yang seolah-olah mengangkat derajat kaum wanita, padahal kenyataannya harkat dan martabat wanita terancam, dalam realitasnya hanya dijadikan tontonan belaka, dan lebih mengerikan lagi kontes kecantikan dijadikan tuntunan oleh kaum wanita, menurut hemat penulis "Kontes Kecantikan" merupakan salah satu pelecehan seksual terhadap kaum wanita, namun dengan kemasan yang apik yang memunculkan brain image positif didalamnya mengakibatkan kaum wanita terjebak dengan konsep yang diusung kaum kapitalis.
Dalam hal ini peranan gender hares diimbangi dengan nilai-nilai keislaman, dan melakukan suatu langkah refleksi terhadap konsep-konsep gender yang diusung oleh kaum wanita. Dan merupakan salah satu problematika yang di tuntaskan oleh islam, pasca perdaban Yunani, Hindu, China, dan Arab Jahiliyah yang memposisikan kaum wanita sebagai hum yang tidak berharga, budak kaum laki-laki dan bisa diperjual belikan, bahkan dijadikan sebagai sesajen dewa-dewa. Betapapun tidak dinamika sosial yang terjadi tempo dulu benar-benar tak bisa ditelolir, kemudian munculah islam sebagai solusi yang mengangkat harkat dan martabat kaum wanita, dengan pernyataan " Surga berada dibawah telapak kaki ibu ", ataupun pernyataan Nabi Muhammad yang mengadikan posisi seorang ibu yang mesti paling utama kits muliakan sebelum kepada ayah kits. Meskipun banyak hal yang di usung oleh islam untuk mengangangkat kaum wanita, namun jangan sampai dijadikan sebagai sesuatu yang hanya membuat kaum wanita stagnan dan mapan apalagi hingga melampaui batas kewajaran kodrati seorang wanita. Seiring dengan banyaknya kaum wanita yang menginginkan menjadi wanita karir, dan menginginkan kesetaraan dengan kaum laki-laki dengan kosep gendernya,meskipun saat ini kerap terjadi interpretasi yang berbeda tentang gender ini, namun yang terpenting mereka tidak sampai lupa akan peranannya dalam rumah tangga dan mampu memanage waktu antara pekerjaan dan keluarga sesuai dengan proporsinya.
Wallahu A'lam Bisshowab....

Jumat, 09 Januari 2009

Dunia hanya sebatas Utopia

Oleh : A_dHie

“Konflik” menjadi sesuatu yang real dalam dinamika kehidupan manusia, kaum tertindas dan yang menindas, kaum borjuis dan ploretan menjadi pelaku kongkit sejarah manusia. Pernyataan ini sama halnya dengan politikus kawakan dari RRC yaitu Mao Zedong yang menganggap dinamika kehidupan muncul atas dasar “Konflik”. Kaum materialis memandang dunia akan selalu kekal sedang kematian hanyalah akhir dari kehidupan sosok manusia, mereka memandang segala sesuatu bersifat materi, sehingga yang ada dalam maindset mereka hanyalah “Materi & Materi”. Padahal, Kematian tidaklah selalu bermakna ketiadaan (nothingness). Kematian bisa saja diartikan dengan kelahiran baru (new born). Seperti statement yang sering digulirkan oleh sufistik-sufistik ulung tempo dulu, yang memandang kematian adalah awal dari hakekat kehidupan manusia. Mengartikan makna kematian sebagai sebuah ketiadaan adalah kekeliruan.[2]
Realitas hari ini, kita sering terjebak dalam utopis kehidupan manusia seolah kita memenjarakan diri kita tanpa sadar, sedang arus Penjajahan “Global Village” terus menerjang dari berbagai aspek kehidupan manusia, dan mencoba membawa kita pada keterasingan, Penulis mengutip sebuah konsep Teologi Islam Pembebasan dari ALI SYARIATI tentang “Keterasingan Manusia " Merusak keyakinanmu, kemanusiaan, pengetahuan, kecintaan, kemenangan, perjuangan, warisan sejarah. Ia merupakan sistem perasaan pandangan sesuatu yang engkau miliki way of life, cara berfikir, alat yang berguna, cara berproduksi, cara konsumsi, kulturalisme, kolonialialisme, indoktrinasi, religius, eksploitasi, hubungan social atau propaganda. Neo kolonialisme, birokrasi, teknokrasi atau otomatisasi. Mungkin juga eksbisionisme , nasionalisme dan rasisme sedang pada waktu tertentu fasisme nazi borjuisme dan militerisme.
Tak bisa dipungkiri, kita sering terejebak dalam hal-hal Kecintaan kepada kenikmatan (epiqurisme), kepada ide-ide (idealisme), kepada materi (materialisme), kepada seni dan keindahan (romantisme), kepada tak sesuatupun juga (eksistensialisme-fatalis) kepada tanah dan darah (rasisme), kepada para pahlawan dan pemerintahan pusat (fasisme) , kepada perasaan (genotisme), kepada sejarah (fatalis), kepada semua orang (sosialisme) kepada ekonomi (komunisme dan liberalisme) kepada kebijaksanaan (filsafat), kepada sorga (spiritual) kepada eksistensi (realisme) kepada kehendak tuhan (determinasi) kepada seks (freudianisme) kepada instink-instink (biologisme), kepada akhirat (agama), tahyul idealisme, ketamakan ekonomisme…………..semuanya berhala-berhala polytheisme masa modern menggantikan Tuhan.
Bila kita analisis, hari ini mungkin Penguasa jahat dan pembunuh yang professional dari kolonialisme lama sudah tidak ada lagi didunia ketiga, akan tetapi sistem–sistem ekonomi, rezim-rezim politik, hubungan social, sistem pendidikan, kesenian dan moral, kebebasan seks, ideologi-ideologi, media propaganda, literature, mode, kesintingan cultural mempengaruhi struktur ekonomi, sistem social, kepercayaan, sifat, jiwa, moral, nilai-nilai manusia.
Ternyata untuk mencapai Mardhotillah terdapat banyak hiruk piruk perjalanan hidup yang penuh dengan teka-teki dalam mencapai kehidupan yang hakiki di akherat. Pantas saja ketika seorang sufistik sekaliber Al-Hallaj, Jalaludin Rumi atau mungkin Syeikh Siti Jenar yang lebih memilih kematian sebagai awal dari kehidupan yang hakiki.

Wallahu A’lam Bisshawab,,,

Platonis Cinta

oleh : a_dHie

Sejenak…
Rasa cinta terukir indah…
Menggores tinta sejarah ...
Sekejap...
Rasa itu terkikis
Menembus dimensi waktu

Sesaat....
Ku termenung....
ketika memandang langit

hanya tersenyum terbias gambarmu
namun, sentak . . . .kejora itu terlalu jauh

mengawang lepas

di milikNyaa

ku tahu, kamu pun tahu

rasa ini akan terus terkutub

kecuali,,,jika kita punahkan

gelora belahan jiwa

sayang, hidup ini tak mungkin bercabang

aku dan kamuhanya satu

dalam BENAK

Diskursus Pemikiran Islam

Oleh : A_dhie Dharma

A. Islam dalam ranah sosial
Eksistensi Islam dewasa ini, secara empirik dalam kondisi terpuruk , terutama secara psikologis dengan Truth Claim dari dunia barat yang ditujukan terhadap islam dalam hal terorisme internasional1, bila kita gunakan pisau analisis, sebetulnya pelaku hanyalah sebagian kelompok kecil yang berfikir radikal dan bersikap ekstriem, yang berimbas terhadap harga diri islam, dan perlu kita garis bawahi bahwa dalam dunia islam menurut hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi, Abu Daud dan Ibnu Majjah dalam kitab-kitab haditsnya bahwa umat Islam akan terbagai menjadi 73 golongan dan yang akan selamat hanya satu golongan yaitu Ahlu Sunnah Wal Jam’ah2, dengan kondisi umat Islam yang plural ini menyebab main of thinking yang berbeda diantara pengikutnya, dan bila kita menelaah Pemikiran Islam meliputi 2 hal :
1. Normativitas
2. Historisitas
Dari pola pemikiran semacam ini kadang muncul suatu perpecahan antar saudara, yang mengklaim bahwa golonganyalah yang terbaik dan merupakan Ahlu Sunnah wal-jama’ah 3,sehingga kadang memunculkan sikap ekstrim dan mengklaim bahwa orang islam yang diluar dari golongannya adalah kafir, padahal sikap seperti ini dilarang keras oleh nabi Muhammad SAW.
Rasulullah bersabda :
“ Sesungguhnya agama itu mudah, tidaklah sesorang berlebih-lebihan dalam menjalankan agama kecuali ia akan keberatan sendiri. Tepatlah kebenaran atau yang mendekatinya, berilah kabar gembira, dan pergunakanlah waktu pagi, sore dan malam hari untuk memudahkan perjalananmu “4.
seharusnya, kita mengggap perbedaan ini adalah suatu anugerah, karena dengan perbedaan ini akan memunculkan suatu keindahan dalam islam dan akan berimbas agama islam menjadi unggul dengan sejuta pemikiran dan konsep sehingga berani bersaing menghadapi peradaban dunia di era globalisasi.
Konsep Islam Normatifitas Islam merupakan konsep pemikiran yang bersifat tekstual, apa- apa yang tercantum dalam sebuah teks itu diartikan sebagai sesuatu yang bersifat tetap tanpa menelaah secara mendalam apa yang menjadi tujuan ( dunia teks ), sedangkan konsep pemikiran Historisitas Islam berbicara pada ruang lingkup Islam yang menyejarah dan memiliki haluan kontekstual serta menjunjung tinggi wilayah substansi atas segala hal yang menjadi peraturan. Disini terlihat jelas bahwa dalam tubuh islam sendiri terdapat pergolakan, lalu bagaimana umat islam ini menguasai peradaban dunia?
Menurut Arkoun Umat Islam idealnya memahami konsep genus Agama Islam yaitu :
1. Agama sebagai kekuatan
2. Agama bentuk hitoris, sosiologis dalam meninjau islam
3. Agama Individu .Aestethic of reception adalah hubungan antara agama pribadi dan agama bentuk (sosial,ekonomi,budaya dan politik yang dikonfensi masyarakat pada suatu ketika).[5]dan umat islam pun perlu memahami bagaimana problematika yang dihadapi dan bagaimana eksisitensi islam di ranah Peradaban dunia.
B. Benturan Peradaban
Menurut Samuel Huntington dalam bukunya “ Benturan Peradaban “ (Clash Civilization) menyatakan bahwa saat ini sedang terjadi benturan peradaban antara Islam Vs Barat, menurutnya, yang menjadi penghambat peradaban barat adalah
Islam
Kong Fu Chu
Penghambat Peradaban Barat





Sebenarnya, maksud tesis karya S. Huntington ini menjadi suatu inspirasi bagi dunia barat untuk menghancurkan Islam, ia menuliskan berbagai hipotsis bahwa islam memilki potensi untuk menjadi musuh besar Barat, dan ia menggunakan istilah “ Islam Militan “ dan menjadikan islam ini targetan setelah Pengganti Soviet setelah tragedi Perang Dingin. namun tesis yang dikarangnya ini menjadikan sebuah inspirasi bagi Francis Fukumaya untuk membuat suatu antitesis “ The End Of Historty” menyangkal atas karangan tesis dari S. Huntington. Dan dari antitesisi yang di karang Francis Fukumaya ini menyatakan bahwa yang akan menguasai peradaban adalah Liberalisme ( kebebasan ) dan Kapitalisme( Pemilik Modal),kemudian ia pun mengarang buku “ The Great Distruptiaon “
( Kehancuran yang luar biasa).
Problematika yang terjadi di ranah peradaban dunia sangat krusial, yang menjadikan umat islam termarginalkan, untuk mengagkat kembali harga diri umat islam, sebetulnya Peradaban Barat sekarang ini sedang mengalami transformasi besar-besaran, mereka mulai jenuh dengan segala ide-ide gila untuk menggagas peradaban dan menciptakan berbagai tekhnologi, dan tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali pada peradaban semula
( Posmodernisme)[6], disebutkan bahwa dengan semakin berkembangnya tekhnologi komunikasi dan informasi pada ujungnya mungkin akan melahirkan mesin-mesin yang super cerdas atas rekayasa selulera manusia berdasarkan pengetahuan gemonik , dengan terciptanya robot-robot cerdas yang membantu kinerja manusia bahkan segala kinerja yang bersifat fisik maupun mental ini akan diambil alih oleh robot-robot, pada puncaknya, hipotesis buku tersebut menyatakan bahwa nanti manusia akan di rekayasa oleh hasil karyanya ( robot-robot) sendiri.

C. Kebangkitan dan Pembaharuan

Menurut Fazlur Rahman, bahwa dalam rubrik pemikiran islam dalam era modernisme kategori-kategori tajdid ( pembaharuan) dan ijtihad (berfikir bebas) harus kita aktualisasikan kembali[7], namun sebagian kelompok masyarakat muslim ini menolak perubahan yang dihasilkan oleh modernisasi budaya dan intelektual, main set mereka takut ketika mengambil kedua langkah tersebut, bahkan secara empirik masyarakat muslim merasa takut melangkah, dan enggan membaca dan menelaah karya-karya yang berbau filsafat, pembaruan, ataupun kitab-kitab agama lain, malah dengan mudahnya mengklaim bahwa filsafat itu ilmu yang sangat berbahaya karena bisa menjadikan seseorang menjadi murtad. imbasnya akan merugikan masyarakat muslim secara luas karena dengan tanpa sadar kita telah menjadikan dunia islam tertinggal dibelakang masyarakat kontemporer lain yang maju dibidang ekonomi, politik dan pengetahuan.
Menurut Ziauddin Sardar dalam bukunya “ Merombak pola fikir intelektual muslim” mengatakan bahwa Peradabana muslim sangat membutuhkan kaum intelektual sejati, jika tidak, kaum muslim hanya akan berputar-putar pada komunitas tanah tandus yang vakum intelektual, dan keadaan umat yang sudah marginal akan semakin tersisih, disini dibutuhkan kaum intelktual yang mampu menyeimbangkan antara islam yang normatif (niliai-nilai keislaman/tekstual) dengan historisitas (islam yang menyejarah/kontekstual) ,artinya seorang muslim mampu bersaing dengan rintangan yang mungkin muncul di era hegemoni global ini.[8] sama halnya dengan pendapat Sayyid Naquib Al-Attas dalam bukunya “ Intelectuals in Developting Societies “ menyebutkan bahwa tidak adanya kaum intelektual sama halnya denga tidak adanya pemimpin yang mampu :
a. Meletakkan permasalahan
b. Mendefinisikan permasalahan
c. Menganalisisnya, dan
d. Memecahkannya.
Suatu masyarakat yang tidak memiliki kaum intelektual tidak akan mampu bekerja efektif, bahkan tidak akan mampu untuk mendeskripsikan suatu permasalahan yang sedang dihadapinya[9].
Tampaknya, Sayyid Naquib Al-Attas menyadari betapa pentingnya kehadiran peran kaum intlektual dalam membangun peradaban suatu masyarakat ataupun negara. Artinya peranan kaum intelektual mempunyai tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya dengan para penguasa formal dalam upaya membangun masyarakat yang beradab. Dalam proses pencerahan kaum intelektual akan mampu membawamasyarakat pada ideologi agama yang benar.
Disini kaum intelektual juga harus berperan sebagai “ Agen Social Of Change” peran itu lebih memiliki targetan, pertama pada menata kehidupan sosial terutama nilai/moral yang berlaku dalam masyarakat apakah sudah sesuai dengan nilai/ norma yng diajarkan oleh agama. Kedua, membimbing masyarakat melalui aktivtas intelaktual mereka untuk mendapatkan pemahaman yang benar, ketiga, menauladani perilaku yang benar sebagai perbuatan dakwah untuk masyarakat dimanapun berada. Ke empat, menjadi pembela utama dan penolong masyarakat dalam melepaskan beban penderitaan mereka, terutama penderitaan yang ditimbulka oleh segala bentuk arogansi manusia, kelima, menyediakan diri sebagai tempat kosultasi/komunikasi untuk menggalang keikut-sertaan umat dalam menyelesaikan proyek-proyek kemanusiaan (sosial dan spiritual).
Kelima indikator ini sekaligus merupakan penolakan terhadap tesis(anggapan) bahwa kaum intelektual hanya sebatas teori tanpa realitas (action oriented), juteru relitas yang selalu terngiang ditelinga umat islam sendiri mengatakan bahwa umat islam hanya sebatas teori-teori belaka tanpa relaitas, ironisnya apa-apa yang menjadi sebuah teori itu dikembangkan oleh dunia barat, contoh konkrit masalah “Kebersihan sebagaian dari iman, perbanyaklah beramal/ sedekah,dan tepat waktu ”kadang hanya sebatas wacana saja sedang praktiknya dikembangkan oleh kaum orientalis, disinilah kepudaran nilai-nilai agama oleh penganutnya sendiri, dan ini menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi masyarakat yang notabene-nya muslim yang memang peduli dengan harga diri islam.

D. Apakah Masyarakat Madani suatu solusi ?
Berawal dari Sabda Nabi Muhammad SAW ;

“ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia”




Dan Firman Allah SWT :

“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung “.[10]
Siapa menyangka Rasulullah SAW mengganti kota Yatsrib menjadi Madinah? Siapa pula yang mengira bahwa kedua kubu (‘Aws dan Khazraj) yang dulunya musuh bebuyutan menjadi bersatu dan bersaudara setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah. Dan yang paling spektakuler beliau disegani kawan maupun lawan. Di kota Yatsrib (Madinah) beliau membawa misi membangun masyarakat yang berakhlakul karimah.
Ditempat itu suara Al-qur’an dan As-Shunnah mulai menggema, dan Rasulullah SAW mulai mendekontruksi paradigma kota tersebut yang notabenenya jahiliyyah, dan mulai menaburkan benih-benih kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat tersebut.[11] Dan pearan Nabi Muhammad SAW telah menciptakan jalinan ikatan emosional yang kuat antar umat beragama apalagi umat yang seagama, karena konsep Nabi itu tetap melindungi kafir dhimmi, sehingga kemakmuran dan kesejahteraan tercipta disana.
Menurut Al-Kindi, bahwa berpijak pada kebenaranlah persaudaraan universal dapat terwujud.[12] Dalam kondisi masyarakat yang plural, dibutuhkan persepsi bahwa kebenaran tidak bisa diklaim oleh komunitas agama tertentu, kebenaran hanya milik Allah SWT yang dalam praktik nyata sehari-hari ia akan mengambil bentuk sejalan dengan hukum-hukum objektif yang menguasai kehidupan manusia secara universal.
Sebuah penemuan ilmiah pada dirinya sendiri sebenarnya hanya mengabdi pada tata nilai kemanusiaan yang universal, dan tidak hanya dimaksudkan untuk mengabdi kepada segelintir manusia yang berniat memusnahkan manusia lain nya. Jika sejahat itu tujuan pencapaian peradaban modern diprioritaskan seharusnya manusia meninggalkanya sejak lama, dan perlu dicatat bahwa ilmu pengetahuan modern itu bebas nilai, manusialah yang membuat ilmu itu menjadi maslahat atau madharat.
Islam adalah salah satu agama besar yang telah melahirkan peradaban dunia yang menonjol hingga masa modern ini, dan tidak hanya dijazirah arab saja akan tetapi sudah menyebar di segala penjuru dunia, dan perwujudannya masih tetap dipelihara dan diperjuangkan menjadi identitas kolektif yang dominan.[13]
Peradaban modern yang kita cintai sekaligus kita kecam ini, pada mulanya memuat berbagai fragmentasi kebutuhan manusia akan hadirnya sebuah masyarakat yang berkeadaban, masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan secara universal, tanpa membedakan asal-usul (etnis) ataupun perbedaan agama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dulu, masyarakat yang seperti inilah yang disebut Masyarakat Madani (Civil Society), masyarakat yang mencintai prinsip-prinsip musyawarah (Demokratisasi), Keadilan (Egaliterianisme), dan keterbukaan (Inklusifisme) menurut khazanah pemikiran Islam.[14]
Masyarakat madani identik dengan yang namanya akhlaq, sebenarnya akhlaq merupakan pancaran dalam yang bersifat fitrah.[15]pancaran fitrah ini yang menjadikan manusia mampu membedakan antara baik dan buruk.atau dengan kata lain sebagai ruh ketuhanan yang sering di gembor-gemborkan oleh para filsuf, kejernihan hati seorang muslim menghadapi problematika ini sangat di perlukan, tentunya dengan segala potensi yang telah Allah karunikan kepada kita ,karena hati adalah aset berharga.[16] Untuk mengembalikan harga diri umat islam dan islam menjadi sebuah solusi dalam peradaban, di era globalisai ini dibutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai integritas moral, dan mempunyai sifat yang merakyat (polpulasi), yang egaliter disamping kemampuan dan kemauannya.[17] Serta perlu ditopang dengan sikap ukhuwwah islamiyah agar terwujudnya masyarakat madani yang selalu menjadi dambaan umat islam, dan perbedaan konsep memahami islam tidak perlu dijadikan hijab untuk selalu bersatu.dan perseteruan yang kadang terjadi selama ini dijadikan sebuah ibrah untuk kedepan, dan semoga konep islam kaffah menjadi salah atu tujuan kita dengan menanamkan kesadaran iman,orientasi hidup, penajaman ruhani agar terlahir kembali karakter seorang mukmin.[18] Dan menjadikan islam sebagai solusi segala problematika peradaban dunia.

Wallahu A’lam bishowab.
KESIMPULAN
Peradaban dunia menurut tesis Samuel Huntington The clash of civilation (benturan peradaban), tujuan Huntington ini semata-mata untuk memarginalkan islam sebagai penghambat Peradaban Barat, namun antitesis yang dikarang oleh Prancis Fukuyama yaitu The End Of History (Akhir dari Sejarah).
Eksisitensi masyarakat islam menjadi sorotan dunia Barat, isu-isu terorisme yang memarginalkan umat islam mereka sebarkan, padahal itu hanya sebagian kelompok kecil yang berfikir radikal dan bersifat egoisme, egoisme ini merupakan suatu instink yang lebih tua atau umum.[19]dan dampak dari sikap inilah yang sebetulnya secara perlahan –lahan menggerogoti harga diri umat islam.melalui berbagai konflik ini islam harus bangkit dan menjadi solusi peradaban melalui konsep akhlaqul karimah, ukhuwah islamiyah untuk menciptakan masyarakat madani.
Wallahu A’lam bishowab.


REFERENSI :


1. Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam,Bandung, PT Mizan Pustaka,2004
2. Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam,Jakarta, Rajawali Pers,2001
3. Dr.Thohir Luth, Masyarakat Madani Solusi Damai Dalam Perbedaan, Jakarta, PT Mediacita,2002
4.Dr.Iman Abdul Mukmin Sa’adudin, Meneladani Akhlak
Nabi, Bandung,PT Remaja Rosdakarya,2006
5. Ensiklopedi Tematis, Akar dan Awal, Jakarta, PT IchtiarBaru Van Hoeve, 2002
6. KH.Abdullah Gymnastiar, Meraih bening hati dengan Manajemen Qolbu, Jakarta, Gema Insani Press,2002
7. H.Abdul Mannan, Membangun Islam Kaffah,Bekasi,Madina Pustaka,1998
8. Muhammad Tholchah Hasan, Diskursus Islam Kontemporer, Jakarta, PT Listafariska Putra,2000
9. Dr.KH.Miftah Faridl, Islam Ukhuwah Ikhtiar membangun
kesalehan sosial, Bandung,PT Remaja Rosdakarya,
2003
10. Muhammad Baqir Shadr, Manusia masa kini dan
problema sosial, Bandung,Pustaka,1984




1 Armahedi Mahzar, Revolusi IntegralismeIslam ; Prakata
2 M.Tholchah Hasan, Diskursus Islam Kontemporer ; hal.122
3 Dr.Nashir bin Abdul karim Al-‘Alq. Perpecahan Umat. Hal.65
4 HR.Al-Bukhori Kitab Al-Iman hadits no.39 (lihat Fathul Bari I/39)
[5] Lihat Dr.KH.Miftah Faridl,Islam Ukhuwah ikhtiar membangun kesholehan sosial,hlm.103
[6] Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam Prakata : Menjala Integralisme Melampaui Posmodernisme. XXVII
7 lihat Fazlur rahman,”Gelombang Perubahan dalam Islam “,hlm.9
8 Lihat DR.Thohir Luth,” Masyarakat Madani solusi damai dalam perbedaan, hlm.18
9 Ibid, hlm.19
[10] Q.S.68 ayat 4
[11] Ibid,hal.4
[12] Ibid, Kata Pengantar
[13] Ensiklopedi Dunia Islam “ Akar dan Awal “, Pendahuluan
[14] Ibid, hlm.35
[15] Lihat Dr.Iman Abdul Mukmin, Meneladani Akhlaq Nabi, hlm.8
[16] Lihat KH.Abdullah Gymnastiar, Meraih bening hati dengan manajemen qalbu,hlm.26
[17] Lihat Muhammad Tholchah Hasan, Diskursus Islam Kontemporer, hlm.83
[18] Lihat H Abdul Mannan, Membangun Islam Kaffah, hlm.145
[19] Lihat Muhammad Baqir Shadr,Manusia masa kini dan problema sosial, hlm.86

Pertarungan Hati

(Sebuah Peperangan Alam Bawah Sadar)

Oleh : a_dHie

Saat sekeping hati ini terkubur dalam onggokan salju
rasa sepi menari membalut hati....
heningnya malam tertusuk duri-duri kegelapan
hasrat ku gapai sebutir bintang
pancarkan sinar kesucian
diantara pekatnya awan gulita
alirkan seberkas cahaya kehangatan
dalam cengkraman dinginnya malam mencairkan kebekuan hatiku
dan bangkitkan setitik semangat hidup yang lama mati...
hatipun kian bergelora
saat bintang bersinar terang
meski tak seterang sang dewi malam
namun mampu menerangi hatiku yang gelap
kubuka hatiku....
pekatpun pergi tinggalkan langit...
kini kilau hati dan bintang kian mempesona
rasa bahagiapun datang menyapa...
menyelimuti jiwa...
namun tibalah diujung pagi...
bintangpun lenyap
pergi tinggalkan hati
haruskah hati ini mati dan membeku lagi.....
Dan pertarungan hati ini ku akhiri
aku adalah seorang pengembara yang sedang mencari jati diri
aku adalah seorang pengelana yang sedang mencari arti hidup
derap kaki melangkah menuju satu arah
mencari kebenaran dari sebuah misteri kehidupanaku
adalah dengan semua keterbatasanku sebagai manusia

Menyoal Tim Independent dalam Ujian Nasional

Oleh : A_dHie’ Cre_ ActivE

Ujian Nasional (UN) merupakan kebijakan pemerintah pusat yang berdampak cukup signifikan dan mendestruksi berbagai aspek, meskipun secara fungsionalitasnya mengedepankan nilai-nilai moralitas dalam tataran konsep dan tekhnis, namun UN ini menjadi sebuah polemik yang selalu hangat untuk diperbincangkan.
Konsep standarisasi nilai dalam UN memunculkan dampak psikologis pada setiap instrumen yang terkait, mulai dari Bupati, Dinas Pendidikan, Orang Tua, Guru maupun anak didik sendiri sebagai objeknya, Keresahan ini seolah menuntut seorang guru dan kepala sekolah melakukan upaya minimalisir ketidak lulusan, mulai dari pembentukan “tim sukses” dengan berbagai konskuensi, seolah UN ini menjadi proyek bersama elit-elit politik dunia pendidikan, dan ini merupakan proses pembodohan secara struktural dan berjama’ah. Karena hal ini jelas-jelas bertentangan dengan apa yang menjadi tujuan nasional pendidikan Indonesia yang tercantum dalam manuskrip UU Sisdiknas BAB II Dasar, Fungsi dan Tujuan pada pasal 3 menyatakan bahwa : “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangungjawab”. Bila dalam tataran praktisnya terdapat banyak penyimpangan, lantas pendidikan kita ini akan mencetak peserta didik seperti apa? Jika dalam realitasnya terjebak dalam lingkaran dilematis.
Regulasi ini setiap tahunnya mengalami penaikan angka mulai dari 3,01 hingga 5,01. regulasi ini seolah menjadi ancaman bersama, sebetulnya peningkatan nilai standar ini bukan hal yang patut dijadikan polemik, namun karena hasil UN ini dijadikan standar kelulusan. Hal inilah yang menjadi substansi dari kontradiksi dikalangan akademisi selama ini, padahal standarisasi ini tercantum Dalam Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional pada pasal 35 ayat 1 menyatakan standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidik, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala, Penjelasan pasal dan ayat tersebut antara lain berbunyi: Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan standar nasional yang disepakati. Namun dalam realitasnya, Ujian Nasional hanya mengukur kemampuan pengetahuan belaka, penentuan standar pun ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Padahal yang mengetahuai secara komprehensip peserta didik adalah pihak sekolah yang bersangkutan. Satu sisi ada gegenstand usaha untuk melakukan akselerasi dalam pembelajaran, misalnya : Bimbingan belajar, namun usaha itu hanya mampu dilakukan oleh siswa yang berlatar belakang mampu, sedangkan bagi siswa yang berlatar belakang miskin ini hanya sebatas utopia belaka, karena biaya yang harus dipersiapkan tidak sedikit.
Demam keresahan ini bukan hanya di rasakan oleh orang tua dan siswa, namun kepala sekolah dan guru pun turut serta terserang demam tersebut, mulai dari pembocoran kunci jawaban via sms sampai lobi-lobi terhadap tim independen, yang semula konsep tim independent yang diusung oleh pemerintah ini dijadikan sebagai resolusi atas penyimpangan atas dosa masa lalu, hingga saat ini masih dipertanyakan keindependenannya, seolah konsep ini hanya simbolik belaka yang menjadi kausal munculnya proyek independen, belum lagi pemerintah daerah pun merasakan keresahannya pasca UN, ketika daerahnya termasuk pada kategori terbanyak siswanya yang tidak lulus, maka keresahan ini akan semakin menjadi-jadi, bahkan berbagai usaha dilakukan hanya untuk meminimalisir kuota siswa yang tidak lulus, misalnya dengan lobi-lobi tingkat tinggi yang akhirnya berlaku istilah zakat independen. Hal lainnya, dalam Aspek Ekonomi, Penyelenggaraan Ujian Nasional merupakan suatu pemborosan biaya, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai 300 miliar, belum lagi dana pendamping dari pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota. Dalam konsep ini belum dibuat sistem regulasi yang jelas untuk anti tesis penyimpangan financial dana Ujian Nasional. Akibat dari sistem pengelolaan masih eksklusif dan bias dalam pertanggung jawabannya, lantas bagaimana siklus pendanaan yang dilakukan pemerintah?
Kompleksitas probematika UN ini menunjukan sinyalment bahwa pendidikan di negara kita terkontaminasi oleh budaya politik praktis, segala penyimpangan dan pelangaran hukum yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan UN seolah tertelan lobi-lobi politik, wajar saja bila pendidikan di indonesia berjalan tertatih-tatih. Seharusnya otoritas kelulusan siswa tidak hanya mengacu pada UN, namun UN hanya salah satu alat pertimbangan dalam kelulusan peserta didik. Untuk menentukan kelulusan peserta didik harus dilakukan akumulasi nilai yang dimulai dari keikutsertaan dalam program belajar peserta didik serta tingkah laku siswa selama menuntut ilmu di sekolah serta nilai dari ujian disatuan pendidikan. Oleh karenanya kriteria dan penentuan kelulusan dikembalikan sepenuhnya kepada satuan pendidikan dengan otoritas dari pendidik.
Hal ini sesuai dengan Pasal 58 ayat (1) UU 20/2003 tentang Sisdiknas; “Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.” Deskripsi pasal tersebut jelas memberikan otoritas kepada pendidik untuk melihat kemajuan-kemajuan peserta didik secara intens. Penilaian akhir dan kelulusan peserta didik diserahkan sepenuhnya kepada guru dan satuan pendidikan dengan melakukan evaluasi pembelajaran secara komprehensif sesuai amanat UU No 20/2005 tentang Sisdiknas, dan sebaiknya UN hanya dijadikan sebagai parameter dalam memetakan permasalahan pendidikan mulai dari tingkatan pusat hingga daerah, sebagai kerangka acuan pemerintah dalam membenahi SDM & Infrastrukur dunia pendidikan di Indonesia.

Wallahu A’lam Bisshawaab…

Sunatan Dana (Sunda) Pendidikan

Oleh : A_dHie ‘86

Manusia adalah pelaku kongkrit sejarah dalam kehidupan, tidak sedikit orang yang tidak menyadari tentang hakekat dirinya, dan untuk menyadari hakekat diri manusia tidak memperolehnya secara serta merta. Manusia muncul dari historisitas dan konsekuensi logisnya, manusia hidup dalam proses. disini manusia membutuhkan apa yang namanya pendidikan ( Paulo Freire).[1] berbicara perihal pendidikan, banyak pendapat ilmuwan yang memaparkan tentang hal pendidikan, namun semuanya berujung pada “proses pendewasaan (usaha secara sadar)”, penulis mengutip sebuah pendapat dari seorang yang memiliki paham behaviorisme John Dewey (1985) bahwa Pendidikan merupakan proses tanpa akhir (Education is the process without end).[2]
Kontribusi rill pendidikan mampu mendekontruksi tatanan masyarakat yang nota benenya awam menjadi tatanan masyarakat yang berpendidikan dan berfikir maju,serta mampu mengubah pola fikir dan pola tingkah suatu komunitas. Negara Jepang lepas dari keterpurukan pasca pemboman di Hiroshima dan Nagasaki, pada saat itu, pemerintah menyelamatkan “Guru“ sebagai prioritas. Karena pemerintah menyadari peranan seorang guru yang elanvital dapat memberikan kontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa, terbukti hingga saat ini meskipun wilayahnya kecil, namun Negara Jepang mampu bersaing dengan Negara lain dalam hal IPTEK. Pemerintahnya pun sadar akan kesejahteraan guru dan menghargai kerja keras seorang guru. Dan memberikan tunjangan rill sesuai dengan jerih payah sang guru. Namun, bila kita analisis nasib guru di negara kita seolah memprihatinkan, apalagi bila kita membicarakan kesejahteraan dan subsidi dari pemerintah terhadap pelaku pendidikan, terkadang masih banyak oknum-oknum yang memanfaatkannya dengan argumen transfortasi maupun jatah keamanan. Inilah “borok” yang menghambat proses pendidikan. Pantas, hingga saat ini pendidikan di Indonesia berjalan statis dan tertatih-tatih.
Sunda (Sunatan Dana) tunjangan seakan sudah mentradisi dan dilegitimed melalui kesepakatan sosial, mulai dari tingkat pusat,provinsi,kabupaten, kecamatan hingga pedesaan semuanya berafiliasi untuk melakukan proses sunatan massal. padahal penggunaan subsidi tersebut sebagai motivasi bagi guru serta pemerataan batuan pendidikan untuk siswa yang nota benenya dari kalangan miskin, namun dalam tataran praktis banyak terjadi penyelewengan-penyelewengan yang memanfaatkan tunjangan termaksud.
Perilaku seperti ini seakan mendarah daging ditubuh pendidikan, belum lagi mahalnya biaya pendidikan, lantas bagaimana kita pemerintah mampu mencerdaskan anak bangsa dan merealisasikan amanat UU Sisdiknas tentang wajar Dikdas? Dalam menanggapi hal semacam ii diperlukan seorang pionir yang memiliki idealisme tinggi untuk merekontruksi prilaku yang seolah mentradisi, bahkan bila perlu didekontruksi, hal ini dilakukan demi kemajuan dunia pendidikan di indonesia, para eksponen yang merumuskan kebijakan dalam dunia pendidikan perlu menyadari pentingnya pendidikan bagi rakyat, dan perlu menyusun suatu kebijakan yang membela kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi semata.
Wallahu A’lam Bisshawab….
[1] Lihat Utomo Dananjaya ,Sekolah Gratis ; hlm.55
[2] Lihat DR.H. Syaiful Sagala, M.Pd, Administrasi Pendidikan Kontemporer ; hlm.4

Sakralisasi Pemerintah

Oleh : A_dHie

Sakralisasi awalnya hanya dipakai dalam istilah-istilah yang biasa dipergunakan para teolog, dalam menjelaskan satu konsep keagamaan. Namun, searah dengan bergulirnya zaman dan pemikiran, maka kata sakralisasi atau sakralisme, kini telah menjadi satu icon bersama yang digunakan dalam segala aspek.
Hal tersebut seolah menjadi konflik tersendiri, dalam kehidupan masyarakat perkotaan saat ini. Artinya tak sedikit orang menggunakan dan melarapkan sakralitas dalam berbagai kondisi. Misalnya saja, seolah benar, ketika ada satu kebijakan yang dilontarkan oleh seorang pemimpin mengenai satu peraturan, jika tidak diapresiasikan oleh rakyatnya, maka rakyat tersebut terancam, “diberhentikan” menjadi warga negaranya.
Memang, konflik menjadi sesuatu yang real dalam dinamika kehidupan manusia, yang melibatkan kaum borjuis dan proletar, sudah menjadi satu sejarah dunia, bahwa perseteruan kaum borjuis dan proletar, akan terus berlangsung, sampai dunia menutup mata.
Karena itu, jangan heran ketika, ada satu pernyataan yang dilontarkan seorang politikus, kawakan dari RRC yaitu Mao Zedong yang menganggap dinamika kehidupan muncul atas dasar konflik. Sementara, dalam Realitasnya, tak sedikit, orang yang telah terjebak dalam utopis kehidupan manusia, seolah kita memenjarakan diri kita tanpa sadar, sedangkan, arus Penjajahan “Global Village” terus menerjang dari berbagai aspek kehidupan manusia, dan mencoba membawa kita pada keterasingan.
Beberapa dekade, masyarakat Purwakarta dihadapkan pada kontradiksi “Relokasi pasar rebo” yang cukup krusial dan mengakibatkan baku hantam antar kubu pro & kontra, tapi ternyata, hasilnya nihil. Begitu pula, kata “Masih dalam proses” -lah yang biasanya dijadikan alibi, sehingga lambat laun, kasus-kasus tersebut seakan ditelan bumi.
Namun, dengan mencuatnya isue dugaan korupsi, yang melibatkan unsur incomben di Purwakarta, seolah menjadi satu cara untuk lari dari satu masalah dan masuk pada masalah yang lain. Akhirnya, berbagai persoalan yang tengah dihadapi, oleh masyarakat Purwakarta tetap menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan..
Belum sempat masyarakat Purwakarta menghela napasnya. Kini, masyarakat, dihadapkan kembali dengan carut marutnya pesta demokrasi yang telah digelar 20 Januari, belum lama ini.
Karena itu, dengan realitas tersebut, seyogiannya masyarakat tidak serta merta menerima semua kebijakan atau hasil putusan para wakil rakyat yang duduk di gedung putih. Namun, posisikan stake holder juga wakil rakyat sebagai pelayan masyarakat. Sehingga tidak terkesan kita “justru yang menjadi pelayan mereka”.
Pasalnya, saat ini hampir sebagian besar masyarakat yang menganggap segala sesuatu yang bersumber dari dua lembaga tersebut sudah menjadi satu konsep atau keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Padahal, pemerintah yang baik dan bersih adalah pemerintah yang memiliki sifat serta sikap yang akomodatif.
Selain itu juga, memiliki jiwa lapang dada ketika menerima kritikan yang membangun dari kalangan civitas akademisi.
Ketika kondisi ini, dibiarkan berlarut-larut. Dapat dipastikan institusi pemerintahan ibarat iblis yang menakutkan, apalagi bagi kalangan proletar. Pemerintah akan dipandang ibarat binatang buas yang siap menerkam. Alih-alih, masyarakat bisa mendukung seabreg program pemerintah. malah justru sebaliknya, akan menjauhi pemerintah.
Saat ini, seolah sketsa wajah pemimpin bagaikan berlindung dibalik sebuah sakralitas institusi hanya demi sebuah kepentingan lainnya. Buktinya, setelah konflik PILKADA tengah menjadi buah bibir diberbagai kalangan masyarakat, kini masyarakat disibukan kembali dengan munculnya satu kebijakan pemerintah yang mengagendakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD Purwakarta tahun 2008. Jika demikian adanya, akankah pasca mencuatnya persolaan APBD ini, akan muncul kembali konflik-konflik lainnya yang dibangun?

Wallahu A’lam Bisshawab…..***A_dHie

Renaissance Of Leader “Menuju Pribumisasi Nilai-Nilia Ke-Islaman “

Oleh : A_dHie ’Cre_aCtivE

Renaissance berasal dari bahasa yunani yang memiliki makna ”Bangkit kembali” sedangkan leadership Secara Etimologi berasal dari kata leading / to lead yang mempunyai makna gramatikal memimpin, akan tetapi leader ini memiliki diversitas dengan makna memerintah (commanding). Dalam perspektif Terminologi, Kepemimpinan merupakan “suatu kegiatan untuk mempengaruhi prilaku orang lain agar mau bekerjasama menuju kepada satu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama” atau “Segala macam bentuk kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang supaya dalam usaha mencapai tujuan yang mereka cita-citakan mau bersatu dan bekerja sama”. Kata ”Renaissance” ini bukan berarti mendeskriditkan kepemimpinan BEM masa jihad 2007-2008, namun dalam bahasa Muhammad Arkoun adalah ”Dekontruksi” (Membongkar), artinya menganalisis segala proker dan kinerja dalam tataran penyempurnaan.
Dalam kerangka deskriptif, pemimpin dianalogikan sebagai hati, yang setiap saat berafiliasi dengan organ-organ yang notabenenya sebagai anggota. Hati sebagai penggerak roda organ harus memiliki suatu sibernetika dalam memenej planning atas segala kebutuhan (Management). Kata menejemen diartikan sebagai “usaha untuk mencapai tujuan suatu organisasi dengan cara memanfaatkan sumberdaya yang ada. Dalam hal ini Sumberdaya itu antaranya potensi pengurus, budgeting, dan informasi.” Mengutip pendapat Ordway Tead “Management is the process and agency which direct and guide the oprations of an organization in the realizing of established aims” . (Proses dan perangkat yang mengarahkan secara membimbing kegiatan-kegiatan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan).atau dengan bahasa lugasnya, suatu Proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengkontrolan, dimana pada masing-masing bidang digunakan baik ilmu pengetahuan maupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditetapkan semula. Kebangkitan seorang pemimpin diharapkan mampu membawa perubahan yang signifikan dan mampu mewadahi dan menyampaikan segala aspirasi dengan melakukan afiliasi.
Pemimpin merupakan genetik atas ruh ilahiyah yang menjadi kodrat setiap manusia, baik dalam tataran pribadi, keluarga, lingkungan maupun pada pranata sosial. Konsep “Pribumisasi” merupakan konsep yang berasal sari ungkapan Gusdur pd tahun 1980-an, dalam manuskrip ini beliau menginterpretasikan “ Pribumisasi Islam” sebagai resolusi yang menjadikan agama dan makrocosmos tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya yang otentik dari agama, resolusi ini mencoba mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya .Pada konteks selanjutnya, akan tercipta pola-pola keberagamaan (Islam) yang sesuai dengan konteks lokalnya, dalam wujud ‘Islam Pribumi’ sebagai jawaban dari ‘Islam Otentik’ atau ‘Islam Murni’ yang ingin melakukan proyek Arabisasi di dalam setiap komunitas Islam di seluruh penjuru dunia. ‘Islam Pribumi’ justru memberi keanekaragaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara tunggal, melainkan beraneka ragam. Tidak ada lagi anggapan Islam yang di Timur Tengah sebagai Islam yang murni dan paling benar, karena Islam sebagai agama mengalami historisitas yang terus berlanjut.
Dalam konteks ”Pribumisasi nilai-nilai keislaman”, diharapkan seorang pemimpin mampu membumikan dan mewarnai lingkungannya dengan atmosfer keilmuan dan keislaman, serta mampu meminimalisir polemik atas diversitas dalam hal konsep furu’iyyah maupun latar belakang organ ekstra. Dan tentunya diperlukan suatu empowerment dan penanganan yang egaliter. Disini diperlukan pula managerial dan controlling dari seorang pemimpin, agar Visi dan misi ini mampu terealiasi dengan baik.

Wallahu A’lam Bisshawaab....

Plato Jadi Tim Sukses Pilkada Purwakarta

Oleh : a_Dhie


Konon, Pilkada merupakan suatu pesta rakyat yang dilakukan secara demokratis untuk memilih seorang kepala daerah, Pilkada secara diaktonis masih terhegemoni oleh semangat teori platonis, yang sangat mengagungkan kehadiran pemimpin ditengah-tengah masyarakat yang sedang ramai-ramainya menyambut pilkada, namun sepertinya dalam memahami diktum teori platonis ini dalam konsep internalisasinya kerap kali terjadi interpretasi yang propaganda sebagai titik kulminasi dan suatu kausal teori ini sudah tidak relevan dengan realitas hari ini, Yang perlu digarisbawahi adalah meski semangatnya sama, tapi motivasinya beda. Plato memberi porsi yang demikian besar kepada pemimpin yang bijak, dengan konsekwensi logis akan terjadi kesejahteran pada masyarakat dan kemajuan daerah itu sendiri, sementara kita memandang pemimpin itu sebagai pemberi jabatan dan proyek. Pemimpin kita pandang berbanding lurus dengan penetuan rezeki, pangkat dan jabatan. Menurut penulis, sebaiknya ajaran Plato sudah waktunya untuk kita tinggalkan dan tanggalkan karena tidak memiliki relevansi lagi, karena hari ini masyarakat purwakarta khususnya sudah memiliki pemahaman tentang moralitas (sense of morality)..
Menurut penulis, konflik dalam pilkada merupakan hal yang wajar, penulis teringat dengan Mao Zedong seorang politikus kawakan RRC yang mengangap semua komponen kehidupan berawal dari konfik, akan tetapi ketika konfik itu berimbas pada pengurangan kuota APBD Purwakarta. Lantas siapa yang dirugikan??? Rakyat, lagi lagi Rakyatlah yang dirugikan dalam konflik ini. Bukankah akan lebih bijak kiranya, ketika hari ini kita berpikir bagaimana mensukseskan Pilkada di Purwakarta,dengan mengenyampingkan kepentingan sesaat. Ataukah mungkin hari ini kita mendorong seorang kandidat pemimpin bukan karena betul-betul ia memiliki kualitas terbaik (the best real quality) sebagaimana yang dicari oleh Plato, melainkan mengajukan standar-standar kebaikan dan kualitas kandidat hanya sekadar menjadi bahan bungkusan dari hubungan kedekatan dengan segala macam bentuknya; kenalan, kolega, organisasi, ideologi, agama, perkawinan dan sebagainya.
Terkadang terlintas dalam mindset penulis tentang teka-teki kehidupan yang sebenarnya, berbaur dengan rasa kekecewaan terhadap prilaku manusia dalam ranah politik yang selalu mengatas namakan rakyat dengan menebar beribu janji-janji manis, berbaur dengan rakyat kecil. Namun apakah realitas seperti ini akan terulang kembali ketika “Kursi Pimpinan dalam istana kekuasaan” itu teraih, masihkah ia mau berbaur dan selalu mendengar jeritan nurani rakyat?disinilah teka-teki kehidupan perpolitikan yang hingga saat ini masih mendekam erat dan menjadi kemuakan tersendiri dalam lubuk hati penulis.
Melihat realitas seperti ini, semestinya kita menempatkan pemerintah dan stake holder beserta jajarannya hanya sebatas kolega atupun mitra belaka, tak bisa dipungkiri hari ini kita selalu mengangap sakral dunia pemerintah ataupun kekuasaan, dan ini menjadi suatu sinyalment bahwa penindasan lagi-lagi menimpa komunitas grassroots (akar rumput). lembaga pemerintah selama ini seolah-olah hanya menjadi lembaga yang punya kebijakan dan pemihakan yang bertolak belakang dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat kecil pada umumnya. Para pemimpin yang mengatasnamakan wakil rakyat, telah menjadikan institusi negara menjadi sumber masalah bagi rakyat dan bangsa ini. Institusi negara sekarang penuh dekorasi-dekorasi yang sangat jauh dengan selera masyarakat lemah. Wajah institusi negara begitu angker dan menakutkan bagi masyarakat miskin. Ia seolah-olah telah berubah wajah menjadi lintah yang setiap waktu siap menerkam dan menghisap darah rakyat jelata. Ia tidak menjadi sumber insprasi, imajinasi dan impian, malah sebaliknya menjadi sumber masalah dan konflik kepentingan dan tempat bagi-bagi proyek dan jabatan untuk orang-orang dekat, kolega dan komunitasnya belaka.
Sketsa wajah pemimpin seperti ini yang berlindung dibalik sakralitas institusi negara merupakan hasil dari sikap dan pemahaman yang parsial dan salah kaprah terhadap teori Plato yang cenderung memberikan ‘cek kosong’ kepada pemimpin lewat pemaknaan sebuah mandat yang bernama pemilihan. Hasil pemilihan yang hanya berlangsung beberapa hari, dipandang sebagai sebuah bentuk keputusan final dari masyarakat, yang berlaku hingga periodenya berakhir.
Mudah-mudahan Pilkada hari ini dapat melahirkan seorang pemimpin yang selalu memihak rakyat dengan selalu mendengarkan aspirasi rakyat dengan manifestasi yang real terhadap aspirasi rakyat, serta dapat mengorganisir institusi-institus sosial- politik untuk bisa mengontrol dan mencegah ketimpangan yang akan terjadi lewat langkah-langkah, kebijakan, dan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin terpilih bersama para simpatisan dan pendukungnya.

Wallahu A’lam Bisshawab…

“Telaah Kritis Terhadap Konsepsi Khilafah “

Oleh : A_dhie

Problematika “Pemimpin” kala ini sedang hangat menjadi buah bibir dikalangan masyarakat kampus, dan tidak sedikit terjadi kontradiksi dalam memahami interpretasi “Pemimpin”, perbincangan “Pemimpin” ini karena pergeseran pemikiran mahasiswa pada aspek paradigma berfikir antara tekstualitas dan kontekstualitas. Yang akhirnya terjadi perbenturan pemikiran dikalangan mahasiswa. Penulis menganalisis penyakit “Status Quo” yang menjadi penyebab utama pergolakan pemikiran dalam memahami arti pemimpin.
Menurut penulis Pemimpin merupakan suatu gabungan antara strategi dan karakteristik, yang mampu menembus singgasana kaum ploretar dan elit politik, apalagi kita sebagai Mahasiswa sebagai calon pemimpin yang Berfikir kritis, dinamis dan berintelektual tinggi jangan sampai terjebak dalam pemahaman yang sempit. Lambat laun icon yang melekat pada diri mahasiswa kita nodai hingga menjadi boomerang bagi kita.
Interpretasi “Pemimpin “ bukan hanya pemimpin umat, yang sering kita sebut sebagai Khilafah. Yang konon katanya terbebas dari nuansa politis. Lantas bagaimana dengan kejadian yang silam tentang perseteruan politik antara Sahabat Ali dan Muawiyah yang ujung-ujungnya pertumpahan darah antar umat islam, yang nota bene nya komunitas islam pada saat itu belum banyak terklasifikasi? Memang penulis sangat sepakat ketika mengusung suatu konsep tegaknya syari’at islam. Namun, ketika tergulir suatu pernyataan bahwa di Indonesia belum tegak syari’at islam, didukung oleh sebuah hadits yang menyatakan :
Siapa saja yang mati tanpa ada bai’at kepada (Imam/Khilafah), maka matinya adalah mati jahiliyyah(H.R.Muslim).
maka terbesit suatu pertanyaan besar dalam mind set kita, lalu bagaimana nasib saudara-saudara kita yang sudah meninggal mendahului kita, apakah merekapun termasuk mati jahiliyyah? Lalu apakah ibadah mereka diterima oleh Allah SWT? Dan bagaimana nasib ibadah kita selama ini? Ini adalah sebuah “Justifikasi atau Truth Of Claim” yang hanya akan menjadi suatu dogma bagi kita. Argument mereka hanya bersenjatakan dalil syara’ (kesepakatan ulama) ataupun ayat qhat’I, mari kita telaah secara kritis suatu ayat yang sering dikatakan sebagai ayat qhat’I dan merupakan dalil syara’. Dalam firman Allah SWT :
Q.S. An- Nisa ; 59
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Maka jika kamu tarik menarik pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasulnya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu baik dan lebih baika akibatnya” .
Penulis menganalisis ayat ini melalui Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Manar, dan Tafsir Al-Maraghi. Yang menjadi sorotan adalah “Ulil Amri “ Lafad Uli adalah bentuk jamak dari waly yang artinya Pemilik atau yang mengurus dan menguasai, sedangkan kata amri adalah perintah atau urusan, jadi Ulil Amri adalah orang-orang yang berwenang mengurus urusan kaum muslim, kata “Ulil Amri” merupakan kata yang memiliki Multiinterpretasi, di antaranya:
Para Pengasa/ Pemerintah, Ulama, Yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Perlu dicatat bahwa kata “Al-Amr “ merupakan bentuk ma’rifah atau definitie, sehingga banyak ulama menafsirkan bahwa wewenang pemilik kekuasaan ini hanya terbatas pada persoalan-persoalan kemasyarakatan saja.bukan persoalan aqidah atau keagamaan murni. Selanjutnya, karena Allah memerintahkan ummat islam taat kepada mereka, ini berarti bahwa ketaatan tersebut bersumber dari ajaran agama, karena perintah Allah adalah perintah agama. Bentuk jamak kata Uli difahami oleh sebagian Ulama adalah kelompok tertentu, yakni suatu badan atau lembaga yag berwewenang menetapkan dan membatalkan sesuatu, katakanlah dalam hal pengangkatan kepala Negara atau pembentukan Undang-Undang dan hukum, mereka terdiri dari para Ulama, pemuka-pemuka masyarakat, petani, buruh, wartawan dan kalangan profesi lainnya serta angkatan bersenjata.
Hal ini sejalan dengan argument mereka yang sering dijadikan senjata melalui sikap para ulama diantaranya adalah Imam Al-Ghazali. Beliau menyatakan “ Kita tidak mungkin menetapkan suatu perkara ketika Negara tidak lagi memiliki imam atau peradilan telah rusak”.
(lah wong pemimpinya juga nggak ada toh, bagaimana kita bisa menetapkan suatu hukum), penulis sepakat dengan pernyataan dari Imam Al-Ghazali, hanya saja kita sering terjebak pemahaman sempit dalam mengartikan imam sebagai khilafah bukan sebagai kepala pemerintahan seperti presiden ataupun yang lainnya. Selama seorang pemimpin itu masih menjalankan syari’at islam (Amal Ma’ruf nahi Munkar) dan tidak melarang tegaknya islam, mengapa kita mesti mendekontruksinya, Penulis memprediksi munculnya suatu konsep baru hanya akan mencuatkan“History in Memorian” tentang Perseteruan Ali & Muawiyah. Dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi benturan pemikiran bahkan sikap ekstrem serta pertumpahan darah di depan mata kita, Oleh karenanya penulis lebih cenderung kita melakukan suatu proses rekontruksi bukan dekontruksi. Yang terpenting adalah nilai-nilai moralitas islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah masih melekat dalam diri kita, dan Negara masih memperbolehkan islam berkembang di Indonesia khususnya.

Wallahu A’lam Bishawab

Macheavellisme

Rata PenuhOleh : A_dHie


Imanensi Politik mengisyaratkan bahwa manusia merupakan “Zoon Politicon”, praktek dan strategi yang dilakukan manusia dalam mempertahankan hidupnya merupakan manifestasi dari sebuah politik. Namun, realita hari ini grand-teori dalam politik lebih mensiratkan “How to get the power and how to use the power” yang kental dengan nuansa “menghalalkan segala cara” konsekuensi logisnya akan memunculkan suatu statement “tidak ada kawan dan lawan parennial (abadi), yang ada hanyalah kepentingan yang parennial (abadi)”. Dalam konsep “How to get the power” tidak jarang orang menggunakan cara-cara “tidak halal”. Kemudian setelah “the power” dapat diraih, selanjutnya adalah “how to use the power”, bagaimana menjaga, memelihara dan melindungi “the power”, bahkan bisa jadi akan memunculkan suatu konsep “cost and money politic” (bagaimana cara mengembalikan), kalau perlu dengan jalan abuse of power, dan ini merupakan strategi kolot yang diwangsitkan sang guru Macheavelis dalam bukunya “The Prince”.
Kontradiksi yang terjadi menjelang ataupun pasca PILKADA ini menjadi suatu sinyalement bahwa hari ini tidak sedikit sang politikus Menuhankan sang Macheavelis. Secara idealis, menurut Aristoteles, politik adalah ilmu yang berorientasi untuk mencapai kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif. Atau dalam bahasa Syeh Siti Jenar “Hamamayu Hayuning Bawana “ (Mencapai Kemakmuran). Dan ini merupakan degradasi atas tujuan suci politik dalam beberapa dekade.
Dalam kerangka subjektivitas Penulis, Eksponen politikus Purwakarta ini masih terintervensi oleh ajaran “Macheavelis”, terbukti dengan munculnya berbagai provokasi –provokasi yang melahirkan kontradiksi interkomunitas grasroot (akar rumput), yang menjadi suatu kausal terjadinya bentrok fisik, dan ini hanya menambah beban penderitaan rakyat dan memperkeruh stabilitas masyarakat Purwakarta. Entah rakyat Purwakarta ini cerdas ataukah memang lebih suka dicerdasi??? Bukankah akan lebih bijak kalau semua kandidat dan seluruh kompenen yang terlibat dalam PILKADA ini duduk satu meja untuk menyelesaikan konflik ini secara normative dalam membahas segala probabilitas terjadinya penyimpangan dengan tanpa menjatuhkan korban-korban yang notebenenya dari kalangan grasroot. Meskipun secara empirik terjadi diversitas antar elit-elit politik dan para pendukung.
Penulis berharap konflik ini akan menemukan resolusi sebagai“Common Platform”, agar mampu mengkondisikan stabilitas masyarakat Purwakarta. Dengan melahirkan seorang Pemimpin yang Menuhankan “Allah”, bukan menuhankan Sang Macheavelis.

Wallahu A’lam Bisshawab...