Rabu, 08 April 2009

Pribumisasi 'Civil Society' dalam Pendidikan

Oleh : A_dhie_thea

Manusia[1] adalah hewan yang berfikir (al-hayawanu-natiq atau animal ratio) merupakan definisi lawas yang dilontarkan Aritoteles, yang menjadi titik diversitas antara manusia dengan mahluk lain adalah identitas pada diri manusia berupa potensi akal untuk menelaah fenomena yang dihadapi manusia dalam menjalani kehidupannya. Karena dalam aspek antropologis, manusia merupakan homo socius artinya mahluk yang bermasyarakat,[2] saling tolong menolong dalam rangka mengembangkan kehidupan di segala bidang.[3] Tentunya manusia merupakan pelaku konkrit mahkamah sejarah dalam mengemban amanah sebagai ‘kholifah fil-ard’.

Senyatanya kata ‘masyarakat’ merupakan bentuk kesepakatan sosial untuk memberikan identitas pada sekelompok manusia yang berkumpul yang terdiri dua atau lebih. Menurut Ralp Linton, Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.[4]

Meskipun terkadang kompleksitas problematika seringkali menghipnotis manusia menjadi sesuatu yang tidak ada bedanya dengan objek material yang seenaknya di eksploitasi. Sehingga lupa akan determinasi dalam diri manusia sebagai pelaku kongkrit mahkamah sejarah dalam kehidupan, tidak sedikit orang yang tidak menyadari tentang hakekat dirinya, dan untuk menyadari hakekat diri manusia tidak memperolehnya secara serta merta. Manusia muncul dari historisitas dan konsekuensi logisnya, manusia hidup dalam proses. Sehingga manusia membutuhkan “pendidikan” (Paulo Freire).[5],

Secara general, Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan.[6] Menurut seorang yang memiliki paham behaviorisme John Dewey (1985) Pendidikan merupakan proses yang tanpa akhir (Education is the process without end).[7] Tentunya eksistensi pendidikan[8] ini menjadi suatu keniscayan, betapapun tidak, dalam literatur sejarah diberbagai belahan dunia, urgensitas pendidikan menjadi komponen yang membentuk suatu peradaban.

Meskipun diskursus pendidikan bermunculan seiring dengan perkembangan zaman (IPTEK), yang menjadikan suatu sinyalemen bagi instrument yang bertanggung jawab atas pendidikan untuk bersama-sama melakukan suatu controlling dalam proses pendidikan, dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 diterangkan bahwa Instrumen yang bertanggung atas terselenggaranya pendidikan adalah keluarga, masyarakat, dan pemerintah.[9] Ketiga instrument ini merupakan 3 kekuatan yang semestinya saling mendukung dalam penyelenggaraan proses pendidikan. Menurut Tilaar (2001) Pendidikan dewasa ini dihadapkan pada 7 krisis pokok : (1) menurunnya akhlaq dan moral peserta didik, arus globalisasi dan modernisme ini menghantarkan efek degradasi moralitas dikalangan peserta didik, kenakalan remaja, narkoba dan sex bebas seakan mentradisi, pasalnya kemajuan IPTEK dialihfungsikan pada hal-hal yang negative serta lemahnya system controlling dari orang tua dan pihak sekolah.(2)Pemerataan kesempatan belajar, Wajar Dikdas 9 Th yang dijadikan kebijakan pemerintah ternyata belum merata, apalagi biaya pendidikan yang secara tidak langsung mengklasifikasikan peserta didik antara yang miskin dan kaya serta jaminan bekerja yang diberikan menjadikan minimnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya, sehingga mereka lebih memilih bekerja yang dinilai lebih menguntungkan ketimbang menyekolahkan anak dengan harus mengeluarkan biaya yang melambung tinggi (3)masih rendahnya efesiensi internal system pendidikan (4)Status kelembagaan (5)Manajemen Pendidikan yang tidak sejalan dengan perkembangan (6) SDM yang belum professional.[10]

Senyatanya, kompleksitas problematiak dalam dunia pendidikan semakin kentara dan bukan hal yang tabu, justeru setiap komponen dalam pendidikan ini sudah terindikasi mengalami ketidak stabilan.

Penulis menspesifikasikan pada tataran masyarakat dalam konteks pendidikan, bagaimana responshibility dan urgensitas pendidikan secara filosofis, dengan melacak kebudayaan yang dibangun selama ini dan menawarkan sebuah konsepsi Nurcholis Majid tentang ‘ Masayarakat Madani’ yang merupakan pengggambaran terhadapa nilai-nilai masyarakat Madani yang dijsutifikasi terpancar dari nilai-nilai Islam yang tertuang di dalam Piagam Madinah. Adapun subsistem yang ada konsepsi “Masyarakat Madani” sebagai berikut :

(a) Egaliter. Kata egaliter menurut Marbun, bermakna kesetaraan. Egalitarian adalah paham yang mempercayai bahwa semua orang sederajat, sementara egalitarianisme diartikan sebagai doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa manusia-manusia itu ditakdirkan sama, sederajat, tidak ada perbedaan kelas dan kelompok.

(b) penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi ( bukan kesukuan, keturunan, ras dan sebagainya). Nilai ini sama sekali tidak ada dalam Islam

(c) Keterbukaan (partisipasi seluruh anggota masyarakat aktif) sebagai ciri masyarakat Madani yang ketiga adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan untuk mendengar pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik. Keterbukaan ini menurut Nurcholis akan memberi peluang pada adanya pengawasan sosial. Lebih lanjut Nurcholis mengatakan bahwa keterbukaan adalah konsekuensi dari prikemanusian, suatu pandangan yang melihat sesama manusia pada dasarnya adalah baik, sebelum terbukti sebaliknya. Oleh karenanya kita harus menerapkan prasangka baik (husnul-zhan), bukan prasangka buruk (su’uzhan) kecuali untuk keperluan kewaspadaan.

Konsepsi tentang “masyarakat Madani”ini merupakan suatu solusi untuk merespon problematika yang terjadi dalam dunia pendidikan belakangan ini, konsep egaliter mempunyai makna filosofis, bagaimana seorang pendidik mampu bersikap egaliter terhadap peserta didik tanpa membenda-bedakan antara di miskin dan si kaya, kemudian pemerintah sebagai otoriatas pemegang kebijakan dalam pendidikanpun mesti bersikap egaliter tanpa melihat backgroud lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta, meskipun sudah melakukan langkah konkrit dengan membuat Undang-Undang No......tentang tidak adanya dikotomi antara negeri dan swasta, namun dalam tataran praktisnya masih belum compalibel dengan regulasi yang telah ditetapkan.

Berbagai problematika ini menjadi sebuah sinyalment bahwa manusia telah kehilangan pengetahuan langsung mengenai dirinya dan keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia bergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak berhubungan langsung dengan dirinya, yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya.[11]



[1] Menurut Plato jiwa manusia adalah entitas non material yang dapat terpisah dari tubuh. Menurutnya, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tuidak dapat hancur (abadi), dan hakekat manusia itua da dua yaitu rasio dan kesenangan (nafsu) lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Rosdaykarya, Bandung, 2006 hal. 9.

[2] Masyarakat mencakup beberapa unsur : (a)Masyarakat sebagai manusia yang hidup bersama, Di dalam ilmu sosial tidak ada ukuran mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoritis angka minimalnya adalah dua orang yang hidup bersama (b) Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti umpamanya kursi, meja dan sebagainya. Oleh karena dengan berkumpulnya manusia, maka akan timbul manusia-manusia baru, manusia itu juga bisa bercakap-cakap, merasa dan mengerti ; mereka juga memiliki keinginan-keinginan untuk menyempaikan kesan-kesan stau perasaan-perasaannya. Sebagai konsekuensi logis dari hidup bersama itu, tumbuhlah sistem komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam kelompok tersebut (c) mereka sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan (d) Mereka merupakan satu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya. Lihat Soerjono Soekanto, Sossiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada,Jakarta, 1990. hal.26-27

[3] Lihat Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan; hlm 2

[4] Lihat Soerjono Soekanto, Sossiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada,Jakarta, 1990. hal.26

[5] Lihat Utomo Dananjaya ,Sekolah Gratis ; hlm.55

[6] Op Cit, hlm 2

[7] Lihat DR.H. Syaiful Sagala, M.Pd, Administrasi Pendidikan Kontemporer ; hlm.4

[8] Pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia, yang telah dinyatakan oleh orang-orang Yunani, lebih dari 600 tahun sebelum masehi. Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Rosdaykarya, Bandung,2006 hal.33. dalam pilologi kata ‘ pendidikan’ biasanya diidentikan dengan kata ‘At-tarbiyah’ Tarbiyat merupakan kegiatan yang membawa manusia sedikit demi sedikit kepada kesempurnaan yang terwujud dalam beribadah kepada Allah, At-tarbiat adalah proses pengembangan, pemeliha-raan, penagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan dan perasaan memiliki bagi anak didik baik jasad, akal, jiwa, bakat, potensi, perasaan, secara berkelanjutan, bertahap, penuh kasih saying, penuh perhatian, kelembutan hati, menyenangkan, bijak, mudah diterima, sehingga membentuk kesempurnaan fitrah manusia, kesenangan, kemuliaan, hidup mandiri, untuk mencapai ridha Allah (definisi secara luas dan formal). Secara general kata tarbiyah berasal dari tiga kata kerja yang berbeda : Raba-Yarbu ; yang bermakna nama-yamnu, artinya berkembang. Rabiya-Yarba yang bermakna nasya’a, tara’ra –a, artinya tumbuh Rabba-Yurabbu yang bermakna aslahahu, tawalla amrahu,sasa-ahu,wa qama ‘alaihi,wa ra’ahu yang berarti memperbaiki, mengurus,memimpin, menjaga, dan memeliharanya atau mendidik. Lihat H. Drs. Dedeng Rosidin, Akar-Akar Pendidikan dalam Al-qur’an dan Al-Hadits, Pustaka Umat Bandung, 2003.hal. 15

[9] Lihat Dr. Redja Mudyahardjo, Filsafat ilmu Pendidikan,hlm. 56

[10] Lihat Kunandar, S.Pd, M.Si, Guru Profesional, hlm.14

[11] Lihat Sayyed Hosein Nasr, Islam dan Nestapa Manusia Moern; hlm. 6

Lunturnya Sakralitas Ijazah

Oleh : A_dhie_thea


Dalam literatur sejarah bangsa indonesia, Ijazah merupakan suatu konsep yang diterapkan oleh bangsa Belanda pada saat menjajah bangsa indonesia, meskipun konsep ijazah ini merupakan suatu pengejawantrahan atas pemikiran filsafat strukturalisme, yang lebih mementingkan simbol belaka.

Dulu, ijazah merupakan suatu kebanggaan dan bukti administrasi secara formal seseorang setelah melewati proses pembelajaran dalam suatu jenjang pendidikan baik SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi. Orang bisa dikatakan terpandang dan mempunyai keilmuan yang memadai manakala telah melewati jenjang pendidikan pada tahap Perguruan Tinggi. Bahkan masyarakat menganggap orang yang berpredikat Sarjana sebagai orang yang serba bisa. Tak peduli dia lulusan fakultas pendidikan, teknik mesin, ekonomi maupun yang lainnya, yang pasti orang tersebut pasti mampu menangani segala macam hal. Dan jumlah sarjana-nya pun relatif sedikit, kerena minimnya jumlah perguruan tinggi dan lokasi yang cukup jauh, sehingga minat masyarakat pun terkerangkeng oleh ruang dan waktu. Meskipun jumlah sarjana relatif sedikit, namun dalam segi kualitas keilmuan cukup memadai, karena ditopang dengan kegigihan dan keseriusan dalam mencapai ruh dari ilmu, dan benar-benar menghayati tentang makna pendidikan seumur hidup dan berorientasi pada ‘tholabul-ilmi’. Sehingga wajar bila produk pemikiran dan kapasitas keilmuan yang dimilikinyapun teruji. Meskipun pada saat itu teknologi belum begitu mendukung sepenuhnya. Kegigihan dan keseriusan terpancar dalam setiap gerak langkah para pencari ilmu, yang kelak akan menjadi seorang pendidik. Padahal senyatanya jika pada saat itu ditopang dengan teknologi yang memadai layaknya hari ini, mungkin akan banyak lahir seorang pendidik yang mempunyai kapasitas keilmuan yang memadai.

Dalam perkembangannya, ternyata perkembangan teknologi yang senyatanya mempau menopang transformasi keilmuan bagi para calon pendidik pada saat itu, justru membuat dinding pragmatisme-oportunisme, pengerjaan tugas yang serba praktis, bahkan teknologipun digunakan untuk salah satu media dalam pengedaan Perkuliahan di dunia maya, yang lebih berorientasi pada materialis ketimbang idealis keilmuan. Dan inilah yang senyatanya membuat degradasi keilmuan, kemudian semakin banyaknya inisiatif untuk membuaka perkuliahan model kelas jauh dan sejenisnya, dengan asumsi mempermudah seseorang untuk memperoleh gelar, dan tentunya gelar yang diperolehpun cederung pada kertas biasa yang kesakralannya masih dipertanyakan dan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh pemilik ijazah ini tidak sebanding dengan gelar yang diperoleh, akibatnya ketika mereka terjun dalam dunia praksis (sebagai pendidik) banyak mengalami berbagai kendala yang cukup signifikan, karena dis-orientasi dan kesalahan struktural dalam memperoleh gelar, senyatanya dalam UU. RI. No. 20 Thn. 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Atau dalam bahasa Ki Hajar Dewantoro pendidikan adalah tuntunan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka kelak menjadi manusia dan anggota masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Senyatanya, dalam berbagai jenjang pendidikan titik tumpuan yang mesti dijadikan oreientasi adalah ‘tholabul ilmi’ bukan semata-mata untuk mencari uang dan pekerjaan, karena semua itu hanyalah efek domino dari keahlian dan keilmuan yang kita miliki. Wajar jika hari ini tujuan nasional pendidikan belum tercapai secara maksimal dan wajah pendidikan semakin buram dan carut-marut. Mengatasi kegelisan ini pemerintah yang punya otoritas dalam kebijakan pendidikan ini membuat suatu regulasi untuk meng-counter gerak para pelaku dan pendiri kelas-kelas jauh, Sehingga pada tanggal 22 September 2000, diterbitkan surat Nomor: 2630/D/T/2000) yang ditandatangani oleh Direktur Dikti Satryo Soemantri Brodjonegoro (NIP 130889802). Ada empat hal yang penting dalam surat tersebut, yaitu: (1) Kelas jauh dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh (bukan kelas jauh) selama ini ditangani oleh Universitas Terbuka, dan dalam waktu mendatang PTN lain dan PTS dapat melakukan pendidikan jarak jauh dengan menggunakan pola seperti Universitas Terbuka atau menggunakan media teknologi informasi yang saat ini sudah sangat berkembang.(3) Untuk menjamin mutu dan keadilan dalam berkompetisi antara PTN dan PTS maka perlu ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pendidikan Jarak Jauh.(4) Segera setelah terbitnya keputusan tersebut maka PTN dan PTS dapat mengusulkan pelaksanaan pendidikan jarak jauh berdasarkan rambu-rambu yang berlaku.(5) Evaluasi akan dilakukan secara cermat terhadap usulan tersebut sebelum dikeluarkan ijin penyelenggaraan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Namun berbagai ide ini tidak sesuai dengan realita, justeru para pemegang kebijakan dan para pejabat dalam institusi pendidikan ini sebagai konseptor dan inisiator terselenggaranya perkuliahan kelas jauh, sehingga wajar bila regulasi ini hanyalah ‘kertas yang kosong akan nilai implementasi’. Dan tak ada ubahnya dengan kertas-kertas yang digunakan sebagai bungkus ‘bala-bala’ yang kesakralannya mulai meluntur terkena minyak oportunisme-pragmatisme.

Wallahu A’lam Bisshawaab,,,,

Rabu, 11 Februari 2009

Hegemoni TV !!!

Tulisan ini di kirim oleh Ahmed Riza, S. Ps.I

Gimana, masih seneng nonton tivi? Apa yang kamu tonton? Sinetron? Pantes aja Cinta Fitri, Cinta Indah, Cinta Mutiara, Cinta Bunga, lalu juga ada Intan, Candy, Mutiara, Lia, dan masih seabrek nama tokoh yang dipakai demi mendongkrak rating sinetron. Yupz, kamu semua pasti sudah langsung ngeh bahwa semua nama di atas itu adalah judul sinetron Indonesia yang meskipun berbeda-beda namun satu jua. Satu tema cerita, jalan cerita bahkan ending cerita. Bukan tak mungkin pemainnya juga sama meski beda-beda judul.

Sejenak kemudian, mengikuti laris manisnya Ayat-ayat Cinta, sinetron Indonesia sedikit berubah haluan. Kenapa sedikit? Karena bau reliji sudah mulai tampak dari judulnya. Mulai Munajah Cinta, Assalamu'alaikum Cinta, Zikir Cinta, Ta'aruf, Muslimah dan masih banyak judul lain yang mendompleng istilah Islam. Judul boleh Islam, isinya nggak beda dengan dengan yang bukan Islam. Mulai rebutan harta, rebutan pacar (kalo yang judul Islam, rebutan suami), selingkuh, saling caci, teriak-teriak memaki, dan banyak contoh buruk lainnya.

Itu adalah jajaran sinetron Indonesia. Peringkat berikutnya adalah tayangan reality show yang lagi booming gara-gara Termehek-mehek menjadi acara yang diminati pemirsa. Belum lagi acara pencarian bakat yang juga marak semisal Indonesian Idol, Mama Mia Show, KDI, Super Twin dan seabrek acara sejenis lainnya. Terus ada gosip selebriti dan acara musik yang tiap saat siap, bahkan ada chanel khusus untuk mantenginnya. Hmm…bisa dipastikan kamu nggak bakal beranjak dari depan televisi tuh mantengin acara begituan.

TV, sihir gaya baru

Coba kamu perhatikan adek-adek kamu, kakak-kakak kamu, ibu kamu dan ibu-ibu tetangga, juga para pembantu rumah tangga) paling banyak menghabiskan waktu dimana. Jawabnya semua sama, di depan TV. Hampir di tiap rumah selalu ada TV, nggak peduli betapa kecil dan miskinnya rumah itu. Bahkan tak jarang di tiap kamar, ada satu TV tersedia agar mudah nonton sambil tiduran di tempat tidur.

Yupz…TV menjadi berhala baru saat ini. TV menjadi pusat aktivitas dimana aktivitas lainnya mengikuti jadwal tayang sinetron TV atau program Reality Show. Mau belajar, nggak bakal konsentrasi sebelum tahu ending-nya Termehek-Mehek jadi ketemu nggak dengan orang yang dicari. Mau tidur nggak bakal nyenyak sebelum tahu lanjutan kisah cinta Farel dengan Fitri di sinetron Cinta Fitri. Hidup pun menjadi di bawah kontrol TV dan acaranya.

Para remaja jadi hapal kisah hidup sang tokoh sinetron daripada kisah sejati teman sekelas yang ibunya lagi sakit dan tak punya biaya berobat. Kisah cinta si BCL dengan Asraf jauh lebih akrab daripada kesusahan teman sebangku yang nggak bisa beli buku pelajaran. Lirik lagu dari mulai Peter Pan sampai D'Masiv semua hapal luar kepala padahal rumus fisika, kimia sampai tenses bahasa Inggris sulit banget ingetnya. Apalagi bisa hapal ayat-ayat al-Quran sebagaimana generasi sahabat dulu, jauh dah. Kita pantas untuk merenung nih.

Berleha-leha di depan TV jauh lebih menarik daripada aktif pada kegiatan yang bermanfaat semisal Karya Ilmiah Remaja dan Rohis (Kerohanian Islam). Bernyanyi-nyanyi menghapal tiap lagu baru yang muncul lebih mengasyikkan daripada melafadzkan Asmaul Husna. Bahkan gaya berbicara para selebritis di TV pun bisa jadi tren. Yang lebih parah adalah apabila gaya hidupnya yang rusak juga diikuti.

TV, penyampai pesan

Sudah banyak bukti bahwa bahasa visual alias TV lebih cepat dalam menyampaikan pesan daripada bahasa verbal berupa omongan dan tulisan. Coba kamu bandingkan daya tahan matamu mantengin buku berisi tulisan dengan TV yang banyak benda warna-warni dan bergerak. Bisa dipastikan biarpun duduk lima jam di depan TV tanpa beranjak semenit pun, kamu bakal kuat. Bahkan ada seorang temen yang dia itu mampu bertahan di depan TV belasan jam tanpa beranjak kecuali kalo mau ke kamar mandi aja. Dan itu berlaku sebalikya ketika kamu pegang buku, bisa dipastikan juga belum lebih lima menit kamu membaca, mata terasa berat dan tubuh jadi lemah lunglai. Ehem…iya apa iya? Ngaku aja deh hehehe...

So , berlomba-lombalah para pemilik modal itu menyampaikan pesan yang dibawanya melalui TV. Walhasil, iklan jadi sebuah keharusan demi berlangsungnya nyawa sebuah stasiun TV. Kamu pingin HP model terbaru, sandal keren buat gaul, baju ngetren keluaran butik tertentu, bahkan coklat merek apa yang sedang kamu makan, itu tak terlepas dari pengaruh iklan. Budaya konsumtif yang suka menghambur-hamburkan harta akhirnya jadi idaman para remaja. Mereka nggak segan-segan jadi cewek bispak (bisa dipake) asal entar pulangnya dibelikan ponsel. Ihhh….nauzhubilah!

Sebuah penelitian yang dilakukan Rand Corporation menunjukkan bahwa program TV mampu memicu tingkat kehamilan pada remaja. Kok bisa? Pasti bisanya kalo tayangan TV yang ada seperti yang kita lihat saat ini. Isinya nggak jauh dari pacaran, pegangan tangan bahkan sampai (maaf) cium bibir dan udah dekat ke arah hubungan seksual. Bahkan anak SD sekarang sudah pada tahu kok istilah ML (Making Love-lah bukan Makan Lemper donk) dan tahapan-tahapan ke arah area terlarang itu. Wiih…memprihatinkan banget.

Tayangan TV jadi nggak netral. Selalu ada nilai-nilai tertentu yang berusaha dipaksakan kepada generasi muda kita. Pola hidup liberal, hedonisme dan permisifisme, foya-foya dan semua yang berhubungan dengan duniawi didorong sedemikian rupa agar ditiru oleh remaja-remaja seusia kamu. Dosa dan mikir akhirat urusan paling belakang. Gawat!

Bersikap bijak terhadap TV

Emang sih, nggak selalu tayangan di TV memberi pengaruh buruk pada para pemirsanya termasuk kamu. Toh, TV kan cuma benda atau alat yang hukumnya mubah alias boleh untuk ditonton. Tapi yang jadi perhatian adalah sejauh mana kecanduan kamu terhadap TV itu sendiri. TV bisa merusak bila benda kotak ini mulai mengambil alih jadwal dalam kehidupanmu. Ia adalah pengendali dan berhala baru yang dipuja dan dirindukan. Ini yang bahaya dan merusak. Inilah yang disebut racun.

Selain mengandung racun, TV juga ada kok sisi manisnya. Tayangan berita di antaranya. Kita jadi tahu apa yang terjadi di belahan bumi lainnya secara 'live' juga berkat media TV. Ketika Palestina dibombardir Zionis Yahudi Israel secara keji, kita jadi ikut merasakan penderitaan saudara-saudara muslim di sana. Anak kecil bersimbah darah, ibu-ibu dan perempuan yang terbunuh dan kilatan api menjilat-jilat akibat serangan udara Israel. Meskipun demikian, kita juga harus selektif terhadap apa yang dikatakan TV tentang hal ini.

Faktanya mayoritas chanel TV di Indonesia mengacu kepada berita yang dibawa oleh CNN, BCC dan sekutunya. Sudah jelas don mereka ini suka memberi nada miring terhadap perjuangan kaum muslimin yang ingin lepas dari penjajahan. Bom jihad untuk menghancurkan Israel dibilang bom bunuh diri karena putus asa. Israel yang menyerang Palestina dibilang mempertahankan diri. Jadi di sisi ini pun kita kudu selektif terhadap berita TV.

TV juga bisa menjadi sarana pengetahuan misalnya tayangan satwa. Kamu bisa paham tuh tentang pola hidup mulai semut hingga harimau, dan buaya. Bagaimana mereka beranak-pinak, bekerjasama, mencari makan, bertahan hidup, dll. Begitu juga dengan acara yang bersifat petualangan dan menjelajah alam. Intinya tontonlah acara TV yang itu berguna buat kamu dan bukan malah merusak pikiran dan perilakumu.

Sebagus apa pun acara TV, kamu kudu ingat bahwa menonton bukanlah menu utama dalam kehidupanmu. Masih banyak kewajiban lain yang harus kamu tunaikan semisal belajar untuk persiapan pelajaran berikutnya, mengerjakan PR, membantu ortu, ngaji dan dakwah. Jangan sampai karena keasyikan nonton TV, PR jadi terlantar, disuruh ortu jadi malas apalagi membolos ngaji.

Ingat skala prioritas

Seorang muslim itu tahu hukum tiap perbuatan yang dilakukannya karena itu semua membawa konsekuensi pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala. Begitu juga dengan nonton TV, jangan dianggap remeh. Hal yang mubah ketika nonton TV jangan sampai mengalahkan yang sunah apalagi wajib. Nggak perlu juga sampai taraf nyandu, yaitu serasa hidup nggak lengkap sebelum nonton TV, ceilee…segitunya.

Dari segi muatan isi, kamu kudu selektif juga, nggak asal nonton. Agar nggak gampang terpengaruh dan terpedaya, kamu kudu punya filter atau saringan yang oke untuk menangkal hal-hal negatif sebelum masuk ke dirimu. Terus, gimana dong cara mendapatkan filter ini? Nggak bisa tidak kamu kudu paham tentang Islam yang kaaffah alias keseluruhan bukan sebagian-sebagian saja. Kalo kamu sudah punya filter ini, tayangan TV atau hal apa pun itu nggak bakal bikin kamu goyah dan melenceng dari jalan yang benar. Islam kaafah ini nggak cukup kamu dapatkan melalui pelajaran agama di sekolah aja. Itu cuma secuil dari ajaran Islam yang sempurna sebagai the way of life.

Filter ini bisa kamu dapatkan dari kelompok pengajian yang ada di sekitar rumah tempat tinggalmu. Kelompok ngaji yang bukan sekedar baca tulis al-Quran tanpa tahu maknanya. Tapi kelompok ngaji yang benar-benar mengkaji Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kamu juga bakal bertemu dengan orang-orang yang akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Jadi, ditanggung nggak bakal tersesat deh di tengah hingar bingar hidup di zaman jahiliyah modern ini, insya Allah.

Kalo udah begini, dijamin deh kamu bisa jadi remaja muslim berkualitas, yaitu cerdas dalam menempatkan skala prioritas dengan ilmu. Karena sungguh, belum pernah ada kisah sukses seseorang karena rajinnya dia menonton TV. Tapi sukses seseorang itu ditentukan dari seberapa aktif dia dalam berperan serta dalam kehidupan. Lha kalo cuma nonton TV dan duduk manis di depannya, nggak perlu sekolah juga semua bisa melakukannya. Nggak perlu ilmu khusus untuk itu. Tapi dunia nggak akan berubah jadi lebih baik dengan hanya mantengin TV terus. Rugi banget kan kalo hidup cuma sekali aja harus disia-siakan waktunya dengan habis menonton TV tanpa henti.

So, setiap aktivitas pasti punya sisi baik dan buruk. Karena kita udah membicarakan tentang madu dan racunnya tayangan TV kita, maka mulai saat ini sudah harus ada perubahan sikap dong dalam diri kamu. Bisa memilih dan memilah tayangan berguna untuk ditonton adalah sikap remaja cerdas yang syar'i. Dan saya yakin kamu adalah satu dari sekian banyak remaja cerdas itu. Nah, kalo kamu sudah cerdas dalam menyikapi tayangan TV, jangan diam aja. Ajak teman-temanmu semua untuk sama-sama cerdas dan syar'i dalam bersikap dan berbuat. Setuju kan, Bro en Sis? So, pasti atuh!

BEST REGARDS

RIZA7782

Sabtu, 10 Januari 2009

Profil Majelis sOcrates

Oleh : A_dhie

Majelis sOcrates lahir dari sebuah
kegelisahan & kontemplasi mendalam di tanggal 21 Mei 2008, tentang realitas kehidupan
mahasiswa STAI atas rapuhnya daya kritis dan
gencarnya hegemoni hedonism yang kian menggerogoti greget intelektual mahasiswa. Diam berarti membiarkan persoalan berlarut tanpa penyelesaian. Kita mesti bergerak maju. Hanya satu kata : Perubahan. Harapan kini telah nampak di hadapan mata, di pundak kaum muda.

“Stagnasi berfikir” menjadi borok yang menggerogoti nalar intelektual mahasiswa dewasa ini, dinamika perdebatan pemikiran semakin terkikis, impuls untuk berfikir kristis hanya sebatas utopia yang tak berujung dan pergumpulan selalu terpolarisasi hal-hal yang sarat akan hedonisme yang senyatanya menjadi kausal dari kerasnya virus hedonisme secara cultural. Al-hasil, kreativitas berfikir terjebak dalam culture hedonisme.

Pilologi kata “Majelis Socrates”, Majelis merupakan tempat manusia bersilatul fikri dan menggagas berbagai ide, pergolakan pemikiran sekaligus sebagi langkah awal pelegitimasian eksistensi kita sebagai agen social of change, karena semuanya hanya sebatas “omong kosong” ketika kita mengklaim bahwa kita sebagai insan akademis yang kritis dan dinamis, namun tidak mampu mentradisikan “kajian” sebagai batu pijakan kita dalam mengembangkan kreativitas dan menyelami samudera kehidupan lewat kerangka pengenalan diri kita, yang sejalan dengan pepatah yang diungkapkan oleh Socrates: "Kenalilah dirimu". Yang senyatanya, berkesinambungan dengan ajaran islam “kenaliliah dirimu maka kau akan mengenali Tuhanmu”.

Berpijak atas dasar ajaran islam dan pepatah Socrates, dan greget intelektual yang memaksa sehingga memunculkan suatu inisiasi untuk membentuk suatu wadah kajian lewat “Majelis Socrates”. Hal yang menarik dalam diri Socrates, disamping dia merupakan salah satu figur tradisi filosofis Barat yang paling penting. Dia pun merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para mahasiswa terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail.

Dalam “Majelis Socrates“ ini diharapkan mahasiswa mampu mengenali dirinya dengan selalu mengembangkan potensi yang melekat erat dalam jiwanya sebagai kerangka aktualisasi diri. Serta lebih kreatif lewat menulis dan membuat bulletin sebagai curah gagasan atas greget intelektual yang telah di kembangkan.

Berangkat dari suatu komitmen, semoga “Majelis Socrates” ini di ridhoi Allah SWT dan mampu menyejukan kegerahan intelektual secara riil bukan hanya sebatas konsepsi dan wacana belaka.

Wallahu A’lam Bisshawaab….

Kompleksitas Problematika Bangsa

Oleh : a_dhie [1]

Lengkap sudah penderitaan rakyat indonesia, belum lama naiknya BBM yang menimbulkan pelbagai gerakan penolakan kenaikan BBM, sehingga pemerintah mencoba menyegarkan kegerahan rakyat dengan memunculkan BLT Plus sebagai resolusi kebijakan ini, bahkan regulasi BLT plus inipun dinilai tidak seimbang dengan naiknya harga BBM, mungkinkah program BLTplus ini hanya akal-akalan Jusuf Kalla sebagai moment publikasi GRATIS ABIS!!! agar masyarakat bersimpatik padanya untuk kepentingan Pilpres 2009?
Belum juga konflik BBM & BLT ini mereda, Minggu 01-06-08 tepat memperingati hari pancasila terjadinya bentrok yang diberitakan oleh media-media dengan dinamakan “penyerangan” FPI kepada AKK-BP . Tidak lama setelah itu muncul opini-opini dari publik terjadinya pencemaran pancasila dengan pengerusakan kebinekaan dalam beragama. Opini tersebut berkembang atas dasar demo yang dilakukan HTI yang merasa riskan dengan tingkah laku pemerintah yang membuat regulasi yang dinilai menyengsarakan rakyat indonesia, sudah menjadi rahasia umum bahwa tendensi gerakan HTI adalah penegakan syari’at islam, bahkan mereka menilai bahwa sistem yang ditegakan di indonesia adalah sistem KAFIR, mungkinlah FPI terintervensi oleh HTI yang jelas-jelas riskan terhadap pancasila? sehingga massa AKK-BB yang berdemo yang misi utamanya untuk mendukung dilegalkan ahmadiyah di jadikan musuh bersama dalam demo kemarin, ataukah mungkin seorang rekayator yang ingin menjadikan FPI menjadi musuh bersama? dengan setting-an yang cukup rapi, ataukah hanya oknum-oknum yang ingin mendekontruksi tatanan Negara Indonesia?
Konflik ini mulai merebak kebebagai penjuru daerah di Indonesia, dalam media massa warga NU sleman, surabaya, Cirebon melakukan penggerebegan terhadap markas FPI dengan menuntut agar FPI membubarkan diri karena dinilai sebagai ormas yang RADIKAL , apalagi statement dari Habib Rizieq yang mengklaim bahwa provokator dari semua ini salah satunya adalah Gus Dur, mungkin pijakan ini yang menjadi warga NU Greget terhadap FPI, karena Gus Dur merupakan orang No.1 di NU, bahkan ada yang menganggap Gus Dur adalah seorang Wali. Padahal jelas-jelas FPI melakukan tindak kekerasan, malah menuduh Gus Dur.
Terlepas dari siapa yang salah dan patut disalahkan, yang pasti Dienul Islam merupakan rahmatan lil alamin, dengan ilmuninasinya Nabi Muhammad SAW mampu mengubah wajah dunia, pergolakan dan perseteruan pada zaman nabi mampu teratasi, nabi muhammad SAW memprediksi bahwa umat islam akan terbagi menjadi 73 faksi, dan ini merupakan kesedihan tersendiri bagi nabi sebelum nabi menghembuskan nafas terakhir, pasalnya diversitas yang terjadi dalam faksi islam ini rentan akan konflik yang hanya akan memecah belah islam, padahal islam hanya satu bukan milik faksi manapun. Yang pasti Islam yang benar itu berdasarkan Alquran dan Hadits.

Wallahu A’lam Bisshawaab….
[1] Penulis adalah manusia yang masih belajar di Madrasah Ibnu Araby

Redefinisi gelar "Ummi" bagi Nabi

Oleh : A_dhie

Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang disegani oleh kawan maupun lawan, kharismatik yang terpancar dalam diri beliau menjadikan Islam menembus kesegala penjuru dunia, namun betapa hinanya kita ketika menganggap bahwa beliau memiliki sifat 'Ummi (tidak bisa baca dan tulis), pemhaman ini justeru telah mendarah daging dalam suatu komunitas yang nota bene nya muslim dan sebagai umatnya. Asumsi ini kita dapati sejak kita kecil dan mungkin hingga sekarang ini, secara tidak langsung kita telah menganggap nabi kita bodoh, coba kita telaah dengan jernih bagaimana persepsi kita ketika ada seorang yang tidak bisa "baca tulis"? dan sudah lumrah dalam masyarakat sosial mengkalim bahwa orang tersebut termasuk dalam kategori "bodoh".

Setelah penulis melakukan suatu analisis SWOT tentang problematika ini, secara mayaoritas mereka berasumsi bahwa Nabi dikatakan Ummi karena dikhawatirkan Kitab Suci Al-Qur'an adalah hasil karya beliau, sehingga untuk menjaga keabsolutan Al-qur'an maka Allah menjadikan nabi ini seorang yang Ummi (tidak bisa baca tulis), dan konon katanya dalam keadaan tidak bisa baca tulis itu Nabi menerangkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah lewat A1-Qur'an menggunakan sebuah Intuisi yang dimlikinya (Ilmu Laduni), namun betapa pun tidak Nabi kita akan menjadi bahan cercaan orang, sehingga lunturlah kharismatik yang beliau miliki. Kalau memang benar beliau itu `Ummi maka akan terjadi suatu kontradiksi dengan ajaran Islam yang beliau berikan kepada ummatnya lewat ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-hadits yang mana banyak memerintahkan kita untuk selalu berfikir dan membaca, begitupun sifat "fatonah" (cerdas) yang dimiliki nabi hanya sebatas wacana belaka, lantas bagaimana nabi memimpin umatnya? apalagi kita ketahui bersama bahwa ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan adalah " Al-`Alaq " yang memerintahkan kita untuk membaca. Baik memabaca ayat-ayat suci al-Qur'an maupun ayat-ayat kauniyyah yang memunculkan suatu persepsi bahwa dengan adanya ciptaan yang Maha Dahsyat maka akan memunculkan suatu asumsi adanya Dzat yang Maha Dahsyat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Berkaitan dengan hal ini kita hares cermat dalam menelaah segala informasi yang kita peroleh dengan menggunakan potensi akal Fikir dan Qalbu yang Allah Anugrahkan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita.
Penulis pun pernah memiliki suatu asumsi seperti itu, namun setelah menganalisis lafadz ... Ummi" yang tersurat dalam AI-Qur'an, ternyata makna yang terpendam dalam lafadz "Ummi" tidak sesempit yang kita fikirkan. Dalam Q.S.Al-A'raf ; 157-158, Q.S. Ali Imran ;20 & 75, Q.S.Al­Maidah ; 27, Q.S. Al-An'am ; 151. lafadz Ummi ini berbentuk lafadz "Ummiyyun" yang menunjukan makna Orang-orang Arab yang belum memperoleh Al-Kitab, adapula yang menafsirkan bahwa kata Ummi yang melekat pada diri Nabi ini menunjukan makna keibu-ibuan, yang mana seorang Ibu ini adalah sosok orang yang menyayangi anaknya setulus hati, begitupun sifat yang melekat pada diri Nabi sebagai Pemimpin, beliau teramat menyayangi umatnya, hingga pada saat beliau menghembuskan nafas terakhir beliau berkata "Ummati...Ummati...", sosok kepemimpinan beliau yang mesti kita jadikan sebagai surf tauladan yang baik. Dan jangan sampai kita nodai dengan suatu asumsi yang hanya membuat kharismatik yang beliau miliki menjadi pudar dimata kawan maupun lawan.
Argumentasi lain bahwa Nabi kita pernah menulis surat ajakan untuk menganut Islam yang ditujukan kepada Raja - Raja yang belum masuk islam, namun penulis lebih sepakat bahwa penafsiran Ummi ini ketika diinterpretasikan sebagai orang yang tidak bisa baca tulis itu lebih pada suatu issu publik, demi menjaga keabsolutan Al-Qur'an, namun dalam ayat Al-Qur'an pernah menyiratkan pernyataan bahwa tidak ada seorang penyairpun yang mampu menulis sebuah syair yang menandingi bahasa Al-Qur'an yang begitu indah dan menakjubkan meskipun kuantitasnya hanya satu ayat. Ini menjadikan suatu indikator bahwa Al-qur'an bukanlah hasil karya Nabi apalagi hasil karya penyair. Dogma yang telah lama mengendap dalam diri kita, coba kita dekontruksi dengan suatu pemahaman bahwa sifat Ummi yang melekat pada beliau difahami sebagai bentuk kasih sayang yang tulus dari beliau kepada ummatnya. Disinilah latak kesalahan berfikir kita karena proses berfikir yang berhenti pada tahapan memori saja, tanpa menelaahnya. Sebagaimana yang sexing penulis gembar gemborkan bahwa secara mayaoritas kita hanya menelan mentah-mentah (Taklid) atas segala pemahaman tanpa ada suatu keberanian untuk mengkritisinya

Wallahu A'lam Bisshawaab...

Membongkar Nalar Intelektual

Oleh : a_dHie

"Cogito Ergo Sum " (Aku ada karena aku berfikir) suatu ungkapan Filosuf ulung Renedescartes yang sudah tidak asing lagi kita kenal tentang eksistensi kita sebagai Hayawanun Nathiq. Karena bagaimana pun juga peranan berfikir sangat kental dengan aktivitas kita sehari-hari, konsekwensi kita sebagai mahluk hidup tidak akan luput dengan yang namanya "masalah", dengan masalah kita akan dihantarkan pada kedewasaan, dengan masalah pula kita akan dihantarkan pada keterpurukan, semuanya akan kembali kepada bagaimana kita mampu membuat suatu managemen konflik. Dan tentunya semua itu tidak lepas dari proses berfikir. Dan peranan ilmu logika (Ilmu Mantiq) akan memberikan sumbangsih dalam pencapaian proses berfikir bijak.
Berfikir tektualitas (Normativitas) dan kontekstualitas (Historisitas) merupakan metodologis berfikir secara global dalam memahami suatu objek fakir. Keduanya memiliki sifat yang saling bertentangan,Tekstualitas akan menciptakan budaya taklid sedangkan Kontekstualitas akan menciptakan budaya rasionalism. Namun bila kita mampu menggabungkannya, maka kita telah melakukan proses berfikir bijak, dan itulah yang semestinya menjadi suatu paradigma berfikir seorang mahasiswa khususnya mahasiswa STAT yang sedang gencar digalakan budaya taklid oleh suatu komunitas secara "Under Gruound", yang hanya menjadikan paradigma berfikir kita stagnan, karena kita hanya dituntut untuk menelan mentah-mentah segala pengetahuan yang kita terima tanpa menelaahnya, dengan berfikir bijak kita akan mampu menjauhkan budaya berfikir rasionalisme yang hanya mengedepankan akal semata tanpa merujuk pada sebuah pedoman hidup (Al-Qur'an) yang bersifat Axioma & fundament.
Berfikir bijak akan menciptakan suatu hubungan mesra antara mahasiswa dengan kajian yang bersifat ilmiah secara empiric bukan hanya sekedar teoritis. Yang hanya mematahkan lawannya dengan suatu konsep dalil syara' (kesepakatan ulama) ataupun ayat qathi' yang notabene nya hanya menghegemoni pemikiran kita untuk menelannya secara mentah-mentah dan perlahan-lahan budaya taklid akan tercipta kembali.
Untuk memahami lebih jauh paradigma berfikir, penulis menyelipkan suatu kutipan dari buku `Ilmu Mantiq" tentang Mazahab berfikir
1. Empiricsm (Mazhab Tajribi) ; pengetahuan yang berdasasrkan pada potensi indra lahir semata dalam menelaah objek fakir( Pengetahuan Indra)
2. Rasionalism (madzhab Aqli) ; pengetahaun yang didasarkan pada penggunaan potensi akal semata dalam memahami, meangkaji,menetapkan dan menelaah objek fikir (Pengetahuan Rasional).
3. Cristism (Mazhab nagdhi) ; gabungan antara Empiricsm dan Rasionalism.
4. Mysticism (Mazhab Shufy) ; pemikiran yang didasarkan pada penggunaan potensi nurani dan intuisi (Pengetahuan mistik).
Untuk mengantisipasi dan menghindari Kesalahan berfikir penulis mengutip sebab-sebab itu dalam buku Mantiq
a. Menganggap mudah dalam mengajukan proposisi, tidak teliti dan hati-hati.
b. Membangga-banggakan kemampuan berfikir dan pendapat dirinya sendiri.
c. Mengikuti kecenderungan hawa nafsu.
Penulis menganalisis ke-3 penyebab ini kerap kali muncul dalam frame of thinking mahasiswa, dengan "Truth Of Claim" yang menjadi senjata ampuh dalam mematahkan lawan diskusi.
Dan jauh dari nilai - nilai berfikir bijak, Penulis mendeskripsikan berfikir bijak dengan skema: Session, Persepsi --Memori-Proses berfikir
Dengan skema seperti ini kita akan mampu mengolah dan menganalisis segala informasi keilmuan yang diperoleh, bukan hanya sebatas menerima suatu pendapat yang hanya bersifat relatif. Dan perlu diketahui Ayat Al-qur'an itu bersifat Mutlaq, akan tetapi dalam tataran penafsiran hanya bersifat relatif. Itu hanya sebuah proses ijtihad yang dilakukan ulama, dengan segala keterbatasan yang dimilikmya, sehingga mereka sering mengakhiri suatu pendapatnya dengan "Wallahu 'Alam Bishowab" karena mereka tidak pernah menganggap pendapatnya yang paling benar, dan memberikan peluang kepada kita untuk menelaahnya bukan hanya sebatas menerima tanpa proses analisis.
Wallahu A'lam Bisshawaab...