Sabtu, 10 Januari 2009

Profil Majelis sOcrates

Oleh : A_dhie

Majelis sOcrates lahir dari sebuah
kegelisahan & kontemplasi mendalam di tanggal 21 Mei 2008, tentang realitas kehidupan
mahasiswa STAI atas rapuhnya daya kritis dan
gencarnya hegemoni hedonism yang kian menggerogoti greget intelektual mahasiswa. Diam berarti membiarkan persoalan berlarut tanpa penyelesaian. Kita mesti bergerak maju. Hanya satu kata : Perubahan. Harapan kini telah nampak di hadapan mata, di pundak kaum muda.

“Stagnasi berfikir” menjadi borok yang menggerogoti nalar intelektual mahasiswa dewasa ini, dinamika perdebatan pemikiran semakin terkikis, impuls untuk berfikir kristis hanya sebatas utopia yang tak berujung dan pergumpulan selalu terpolarisasi hal-hal yang sarat akan hedonisme yang senyatanya menjadi kausal dari kerasnya virus hedonisme secara cultural. Al-hasil, kreativitas berfikir terjebak dalam culture hedonisme.

Pilologi kata “Majelis Socrates”, Majelis merupakan tempat manusia bersilatul fikri dan menggagas berbagai ide, pergolakan pemikiran sekaligus sebagi langkah awal pelegitimasian eksistensi kita sebagai agen social of change, karena semuanya hanya sebatas “omong kosong” ketika kita mengklaim bahwa kita sebagai insan akademis yang kritis dan dinamis, namun tidak mampu mentradisikan “kajian” sebagai batu pijakan kita dalam mengembangkan kreativitas dan menyelami samudera kehidupan lewat kerangka pengenalan diri kita, yang sejalan dengan pepatah yang diungkapkan oleh Socrates: "Kenalilah dirimu". Yang senyatanya, berkesinambungan dengan ajaran islam “kenaliliah dirimu maka kau akan mengenali Tuhanmu”.

Berpijak atas dasar ajaran islam dan pepatah Socrates, dan greget intelektual yang memaksa sehingga memunculkan suatu inisiasi untuk membentuk suatu wadah kajian lewat “Majelis Socrates”. Hal yang menarik dalam diri Socrates, disamping dia merupakan salah satu figur tradisi filosofis Barat yang paling penting. Dia pun merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para mahasiswa terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail.

Dalam “Majelis Socrates“ ini diharapkan mahasiswa mampu mengenali dirinya dengan selalu mengembangkan potensi yang melekat erat dalam jiwanya sebagai kerangka aktualisasi diri. Serta lebih kreatif lewat menulis dan membuat bulletin sebagai curah gagasan atas greget intelektual yang telah di kembangkan.

Berangkat dari suatu komitmen, semoga “Majelis Socrates” ini di ridhoi Allah SWT dan mampu menyejukan kegerahan intelektual secara riil bukan hanya sebatas konsepsi dan wacana belaka.

Wallahu A’lam Bisshawaab….

Kompleksitas Problematika Bangsa

Oleh : a_dhie [1]

Lengkap sudah penderitaan rakyat indonesia, belum lama naiknya BBM yang menimbulkan pelbagai gerakan penolakan kenaikan BBM, sehingga pemerintah mencoba menyegarkan kegerahan rakyat dengan memunculkan BLT Plus sebagai resolusi kebijakan ini, bahkan regulasi BLT plus inipun dinilai tidak seimbang dengan naiknya harga BBM, mungkinkah program BLTplus ini hanya akal-akalan Jusuf Kalla sebagai moment publikasi GRATIS ABIS!!! agar masyarakat bersimpatik padanya untuk kepentingan Pilpres 2009?
Belum juga konflik BBM & BLT ini mereda, Minggu 01-06-08 tepat memperingati hari pancasila terjadinya bentrok yang diberitakan oleh media-media dengan dinamakan “penyerangan” FPI kepada AKK-BP . Tidak lama setelah itu muncul opini-opini dari publik terjadinya pencemaran pancasila dengan pengerusakan kebinekaan dalam beragama. Opini tersebut berkembang atas dasar demo yang dilakukan HTI yang merasa riskan dengan tingkah laku pemerintah yang membuat regulasi yang dinilai menyengsarakan rakyat indonesia, sudah menjadi rahasia umum bahwa tendensi gerakan HTI adalah penegakan syari’at islam, bahkan mereka menilai bahwa sistem yang ditegakan di indonesia adalah sistem KAFIR, mungkinlah FPI terintervensi oleh HTI yang jelas-jelas riskan terhadap pancasila? sehingga massa AKK-BB yang berdemo yang misi utamanya untuk mendukung dilegalkan ahmadiyah di jadikan musuh bersama dalam demo kemarin, ataukah mungkin seorang rekayator yang ingin menjadikan FPI menjadi musuh bersama? dengan setting-an yang cukup rapi, ataukah hanya oknum-oknum yang ingin mendekontruksi tatanan Negara Indonesia?
Konflik ini mulai merebak kebebagai penjuru daerah di Indonesia, dalam media massa warga NU sleman, surabaya, Cirebon melakukan penggerebegan terhadap markas FPI dengan menuntut agar FPI membubarkan diri karena dinilai sebagai ormas yang RADIKAL , apalagi statement dari Habib Rizieq yang mengklaim bahwa provokator dari semua ini salah satunya adalah Gus Dur, mungkin pijakan ini yang menjadi warga NU Greget terhadap FPI, karena Gus Dur merupakan orang No.1 di NU, bahkan ada yang menganggap Gus Dur adalah seorang Wali. Padahal jelas-jelas FPI melakukan tindak kekerasan, malah menuduh Gus Dur.
Terlepas dari siapa yang salah dan patut disalahkan, yang pasti Dienul Islam merupakan rahmatan lil alamin, dengan ilmuninasinya Nabi Muhammad SAW mampu mengubah wajah dunia, pergolakan dan perseteruan pada zaman nabi mampu teratasi, nabi muhammad SAW memprediksi bahwa umat islam akan terbagi menjadi 73 faksi, dan ini merupakan kesedihan tersendiri bagi nabi sebelum nabi menghembuskan nafas terakhir, pasalnya diversitas yang terjadi dalam faksi islam ini rentan akan konflik yang hanya akan memecah belah islam, padahal islam hanya satu bukan milik faksi manapun. Yang pasti Islam yang benar itu berdasarkan Alquran dan Hadits.

Wallahu A’lam Bisshawaab….
[1] Penulis adalah manusia yang masih belajar di Madrasah Ibnu Araby

Redefinisi gelar "Ummi" bagi Nabi

Oleh : A_dhie

Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang disegani oleh kawan maupun lawan, kharismatik yang terpancar dalam diri beliau menjadikan Islam menembus kesegala penjuru dunia, namun betapa hinanya kita ketika menganggap bahwa beliau memiliki sifat 'Ummi (tidak bisa baca dan tulis), pemhaman ini justeru telah mendarah daging dalam suatu komunitas yang nota bene nya muslim dan sebagai umatnya. Asumsi ini kita dapati sejak kita kecil dan mungkin hingga sekarang ini, secara tidak langsung kita telah menganggap nabi kita bodoh, coba kita telaah dengan jernih bagaimana persepsi kita ketika ada seorang yang tidak bisa "baca tulis"? dan sudah lumrah dalam masyarakat sosial mengkalim bahwa orang tersebut termasuk dalam kategori "bodoh".

Setelah penulis melakukan suatu analisis SWOT tentang problematika ini, secara mayaoritas mereka berasumsi bahwa Nabi dikatakan Ummi karena dikhawatirkan Kitab Suci Al-Qur'an adalah hasil karya beliau, sehingga untuk menjaga keabsolutan Al-qur'an maka Allah menjadikan nabi ini seorang yang Ummi (tidak bisa baca tulis), dan konon katanya dalam keadaan tidak bisa baca tulis itu Nabi menerangkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah lewat A1-Qur'an menggunakan sebuah Intuisi yang dimlikinya (Ilmu Laduni), namun betapa pun tidak Nabi kita akan menjadi bahan cercaan orang, sehingga lunturlah kharismatik yang beliau miliki. Kalau memang benar beliau itu `Ummi maka akan terjadi suatu kontradiksi dengan ajaran Islam yang beliau berikan kepada ummatnya lewat ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-hadits yang mana banyak memerintahkan kita untuk selalu berfikir dan membaca, begitupun sifat "fatonah" (cerdas) yang dimiliki nabi hanya sebatas wacana belaka, lantas bagaimana nabi memimpin umatnya? apalagi kita ketahui bersama bahwa ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan adalah " Al-`Alaq " yang memerintahkan kita untuk membaca. Baik memabaca ayat-ayat suci al-Qur'an maupun ayat-ayat kauniyyah yang memunculkan suatu persepsi bahwa dengan adanya ciptaan yang Maha Dahsyat maka akan memunculkan suatu asumsi adanya Dzat yang Maha Dahsyat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Berkaitan dengan hal ini kita hares cermat dalam menelaah segala informasi yang kita peroleh dengan menggunakan potensi akal Fikir dan Qalbu yang Allah Anugrahkan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita.
Penulis pun pernah memiliki suatu asumsi seperti itu, namun setelah menganalisis lafadz ... Ummi" yang tersurat dalam AI-Qur'an, ternyata makna yang terpendam dalam lafadz "Ummi" tidak sesempit yang kita fikirkan. Dalam Q.S.Al-A'raf ; 157-158, Q.S. Ali Imran ;20 & 75, Q.S.Al­Maidah ; 27, Q.S. Al-An'am ; 151. lafadz Ummi ini berbentuk lafadz "Ummiyyun" yang menunjukan makna Orang-orang Arab yang belum memperoleh Al-Kitab, adapula yang menafsirkan bahwa kata Ummi yang melekat pada diri Nabi ini menunjukan makna keibu-ibuan, yang mana seorang Ibu ini adalah sosok orang yang menyayangi anaknya setulus hati, begitupun sifat yang melekat pada diri Nabi sebagai Pemimpin, beliau teramat menyayangi umatnya, hingga pada saat beliau menghembuskan nafas terakhir beliau berkata "Ummati...Ummati...", sosok kepemimpinan beliau yang mesti kita jadikan sebagai surf tauladan yang baik. Dan jangan sampai kita nodai dengan suatu asumsi yang hanya membuat kharismatik yang beliau miliki menjadi pudar dimata kawan maupun lawan.
Argumentasi lain bahwa Nabi kita pernah menulis surat ajakan untuk menganut Islam yang ditujukan kepada Raja - Raja yang belum masuk islam, namun penulis lebih sepakat bahwa penafsiran Ummi ini ketika diinterpretasikan sebagai orang yang tidak bisa baca tulis itu lebih pada suatu issu publik, demi menjaga keabsolutan Al-Qur'an, namun dalam ayat Al-Qur'an pernah menyiratkan pernyataan bahwa tidak ada seorang penyairpun yang mampu menulis sebuah syair yang menandingi bahasa Al-Qur'an yang begitu indah dan menakjubkan meskipun kuantitasnya hanya satu ayat. Ini menjadikan suatu indikator bahwa Al-qur'an bukanlah hasil karya Nabi apalagi hasil karya penyair. Dogma yang telah lama mengendap dalam diri kita, coba kita dekontruksi dengan suatu pemahaman bahwa sifat Ummi yang melekat pada beliau difahami sebagai bentuk kasih sayang yang tulus dari beliau kepada ummatnya. Disinilah latak kesalahan berfikir kita karena proses berfikir yang berhenti pada tahapan memori saja, tanpa menelaahnya. Sebagaimana yang sexing penulis gembar gemborkan bahwa secara mayaoritas kita hanya menelan mentah-mentah (Taklid) atas segala pemahaman tanpa ada suatu keberanian untuk mengkritisinya

Wallahu A'lam Bisshawaab...

Membongkar Nalar Intelektual

Oleh : a_dHie

"Cogito Ergo Sum " (Aku ada karena aku berfikir) suatu ungkapan Filosuf ulung Renedescartes yang sudah tidak asing lagi kita kenal tentang eksistensi kita sebagai Hayawanun Nathiq. Karena bagaimana pun juga peranan berfikir sangat kental dengan aktivitas kita sehari-hari, konsekwensi kita sebagai mahluk hidup tidak akan luput dengan yang namanya "masalah", dengan masalah kita akan dihantarkan pada kedewasaan, dengan masalah pula kita akan dihantarkan pada keterpurukan, semuanya akan kembali kepada bagaimana kita mampu membuat suatu managemen konflik. Dan tentunya semua itu tidak lepas dari proses berfikir. Dan peranan ilmu logika (Ilmu Mantiq) akan memberikan sumbangsih dalam pencapaian proses berfikir bijak.
Berfikir tektualitas (Normativitas) dan kontekstualitas (Historisitas) merupakan metodologis berfikir secara global dalam memahami suatu objek fakir. Keduanya memiliki sifat yang saling bertentangan,Tekstualitas akan menciptakan budaya taklid sedangkan Kontekstualitas akan menciptakan budaya rasionalism. Namun bila kita mampu menggabungkannya, maka kita telah melakukan proses berfikir bijak, dan itulah yang semestinya menjadi suatu paradigma berfikir seorang mahasiswa khususnya mahasiswa STAT yang sedang gencar digalakan budaya taklid oleh suatu komunitas secara "Under Gruound", yang hanya menjadikan paradigma berfikir kita stagnan, karena kita hanya dituntut untuk menelan mentah-mentah segala pengetahuan yang kita terima tanpa menelaahnya, dengan berfikir bijak kita akan mampu menjauhkan budaya berfikir rasionalisme yang hanya mengedepankan akal semata tanpa merujuk pada sebuah pedoman hidup (Al-Qur'an) yang bersifat Axioma & fundament.
Berfikir bijak akan menciptakan suatu hubungan mesra antara mahasiswa dengan kajian yang bersifat ilmiah secara empiric bukan hanya sekedar teoritis. Yang hanya mematahkan lawannya dengan suatu konsep dalil syara' (kesepakatan ulama) ataupun ayat qathi' yang notabene nya hanya menghegemoni pemikiran kita untuk menelannya secara mentah-mentah dan perlahan-lahan budaya taklid akan tercipta kembali.
Untuk memahami lebih jauh paradigma berfikir, penulis menyelipkan suatu kutipan dari buku `Ilmu Mantiq" tentang Mazahab berfikir
1. Empiricsm (Mazhab Tajribi) ; pengetahuan yang berdasasrkan pada potensi indra lahir semata dalam menelaah objek fakir( Pengetahuan Indra)
2. Rasionalism (madzhab Aqli) ; pengetahaun yang didasarkan pada penggunaan potensi akal semata dalam memahami, meangkaji,menetapkan dan menelaah objek fikir (Pengetahuan Rasional).
3. Cristism (Mazhab nagdhi) ; gabungan antara Empiricsm dan Rasionalism.
4. Mysticism (Mazhab Shufy) ; pemikiran yang didasarkan pada penggunaan potensi nurani dan intuisi (Pengetahuan mistik).
Untuk mengantisipasi dan menghindari Kesalahan berfikir penulis mengutip sebab-sebab itu dalam buku Mantiq
a. Menganggap mudah dalam mengajukan proposisi, tidak teliti dan hati-hati.
b. Membangga-banggakan kemampuan berfikir dan pendapat dirinya sendiri.
c. Mengikuti kecenderungan hawa nafsu.
Penulis menganalisis ke-3 penyebab ini kerap kali muncul dalam frame of thinking mahasiswa, dengan "Truth Of Claim" yang menjadi senjata ampuh dalam mematahkan lawan diskusi.
Dan jauh dari nilai - nilai berfikir bijak, Penulis mendeskripsikan berfikir bijak dengan skema: Session, Persepsi --Memori-Proses berfikir
Dengan skema seperti ini kita akan mampu mengolah dan menganalisis segala informasi keilmuan yang diperoleh, bukan hanya sebatas menerima suatu pendapat yang hanya bersifat relatif. Dan perlu diketahui Ayat Al-qur'an itu bersifat Mutlaq, akan tetapi dalam tataran penafsiran hanya bersifat relatif. Itu hanya sebuah proses ijtihad yang dilakukan ulama, dengan segala keterbatasan yang dimilikmya, sehingga mereka sering mengakhiri suatu pendapatnya dengan "Wallahu 'Alam Bishowab" karena mereka tidak pernah menganggap pendapatnya yang paling benar, dan memberikan peluang kepada kita untuk menelaahnya bukan hanya sebatas menerima tanpa proses analisis.
Wallahu A'lam Bisshawaab...

Retorika Aristoteles

Oleh : A_dhie'

Dewasa ini retorika sebagai public speaking, oral communication, atau speech communication, karena memang hubungan manusia dengan dunia ada dalam kata, dan kata merupakan buah dari pemikiran manusia, Menurut Aristoteles, retorika tidak lain daripada "kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu, metode persuasi yang ada". Dalam tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
Menurut Aristoteles cara untuk mempengaruhi manusia sbb :
1. Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos).
2. Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals).
3. Anda Meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos).
4. Entimem (Bahasa Yunani: "en" di dalam dan "thymos" pikiran) adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena sebagian premis dihilangkan.Sebagaimana Anda ketahui, silogisme terdiri atas tiga premis: ma­yor, minor, dan kesimpulan. Semua manusia mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu Anda pun mempunyai perasaan yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda untuk mengasihi orang-orang yang menderita, saya berkata, "Kasihanilah mereka. Sebagai manusia, Anda pasti mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita ". Ucapan yang ditulis miring menunjukkan silogisme, yang premis mayornya dihilangkan.
5. Dispositio (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.
6. Elocutio (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk "mengemas" pesannya. Aristo­teles memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pe­san, khalayak, dan pembicara.
7. Memoria (memori). Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dengan mengatur bahan-bahan pem­bicaraannya. Aristoteles menyarankan "jembatan keledai" untuk me­mudahkan ingatan. Di antara semua peninggalan retorika klasik, me­mori adalah yang paling kurang mendapat perhatian para ahli retorika modern.
8. Pronuntiatio (penyampaian). Pada tahap ini, pembicara menyampai­kan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan. Demos­thenes menyebutnya hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata hipo­krit). Pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan gerakan­gerakan,anggota badan (gestus moderatio cum venustate).
Wallahu A’lam Bisshawab…

Eskatologi Islam : Melacak Gerak Ruh & Tubuh

Oleh : a_dHie

Dunia adalah stasiun kedua yang dilalui manusia, kata ”Eskatologi” merupakan ajaran teologi yang berkaitan dengan akhir zaman (kematian,hari kiamat, dan kebangkitan).menurut Poulo Freire manusia berhubungan dengan dunia ada dalam kata, dan dengan “kata” manusia dapat membentuk suatu peradaban dan interaksi sosio cultural, melalui kata ini pula akan membentuk suatu sistem informasi, sejalan dengan pendapat Ziauddin Sardar yang mengatakan bahwa hubungan manusia dengan dunia ada dalam informasi yang merupakan kata-kata yang integral.
Diskursus tentang ”komponen manusia” ini menjadi perbincangan sejak zaman socrates, dalam dunia filsafat aliran serba dzat mengatakan bahwa komponen esensial manusia adalah dzat, konsekuensinya manusia berasal dari materi saja, aliran serba ruh mengatakan bahwa esensi manusia adalah ruh, sedangkan tubuh hanya daun kering yang setiap saat akan terjatuh, adapula aliran dualisme memandang manusia ini terbentuk atas ruh dan tubuh. Meskipun aliran dulisme ini sejalan dengan ajaran islam, namun ada suatu diversitas yang prinsipil mengenai hal ini, islam membahas term-term ruh yang melekat pada diri manusia sesuai dengan akhlaq dan keshalehan sosial manusia, hal ini sejalan dengan pendapat Imam Al-Ghazali. Contoh kongkrit, ketika Imam Ja’far Al-Shadiq yang merupakan salah satu eksponen spiritual yang terkenal dan seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, ketika beliau menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Kemudian beliau mengusap wajahnya, betapa kagetnya Abu Bashir ketika melihat term-term yang variasi dalam wujud binatang yang mengelilingi ka’bah, revolusi menifestasi ini berkaitan erat dengan pola tingkah dan laku manusia di alam empirik. Hal ini, menjadi suatu sinyalment bahwa manusia hidup berwajah propaganda antara alam empiris (tubuh) dan alam mistis (ruh). Secara kasat mata alam ruh tidak dapat dicapai, kecuali melalui langkah-langkah spiritual.
Menurut Imam Ali, eksistensi ruh seperti halnya tubuh, dengan adanya comman flatform dalam hal sifat yang melekat pada keduanya. Seperti : hidup,mati, sehat,sakit,bangun dan tidur merupakan sesuatu yang elanvital yang melekat pada tubuh manusia. Namun dalam alam ruh, hidupnya manusia dianalogikan sebagai ilmunya, matinya manusia sebagai kebodohannya, sehatnya manusia sebagai keyakinannya, sakitnya manusia sebagai keraguannya, bangunnya sebagai terjaganya, sedangkan tidurnya merupakan kelalaiannya.
Sosok manusia yang menghiasi pemikirannya dengan keilmuan merupakan manifestasi hidupnya ruh pada dirinya, dengan suatu implementasi munculnya berjuta pertanyaan ditopang dengan melakukan proses kontemplasi sebagai solusi. Kongkritnya, pergolakan pemikiran tersebut sebagai term gerak sejarah alam ruh. Meskipun dengan proses ini manusia terbentur dengan skeptis yang menyebabkan ruhnya sakit, dan obat yang mujarab untuk menyembuhkan sakitnya ruh dengan membaca secara tekstual dan kontekstual ditopang oleh makanan ruhani berupa dzikir. Sehingga manusia akan sehat kembali dengan bentuk keyakinan atas apa yang direfleksikannya, dan sepertinya ini adalah harga mati dan suatu proses yang mesti dilalui manusia. Sedangkan, ketika potensi fikir tidak dimanfaatkan oleh manusia, maka ruh manusia mengalami kematian dengan bentuk kestagnanan berfikir dan akan menciptakan kejumudan dalam literatur sejarah ruh. Ketika kondisi ruh manusia mengalami tertidur maka pada saat itu manusia mengalami kelalaian dan mudah terintervensi, sedangkan bangunnya ruh manusia merupakan sikap terjaganya manusia dalam bertindak, sehingga apa yang akan dilakukan selalu difikirkan secara matang dengan melakukan suatu proses analsis. Kondisi kongkrit ini menjadi suatu hal yang mesti dipilih manusia untuk melangkah mengukir manuskrip sejarah kehidupan alam empirik dan transendental.
Wallahu A’lam Bisshawab.....

Dunia ; Antara Materi & Ide

Oleh : A_dHie’


ALIRAN MATERIALISME :
Materialisme adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi. Materialisme memandang bahwa materi itu adalah primer, sedangkan ide ditempatkan sebagai sekundernya. Sebab materi itu timbul atau ada lebih dulu, kemudian baru ide.
Pandangan materialisme itu berdasarkan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat. Artinya,
Menurut proses waktu: Lama sebelum manusia yang bisa mempunyai ide itu ada atau lahir di dunia, dunia dan alam atau materi ini sudah ada lebih dahulu.
Menurut proses zat: Manusia ini tidak bisa berpikir atau tidak bisa mempunyai ide tanpa ada atau tanpa mempunyai otak. Dan otak itu adalah suatu materi. Otak itu adalah materi, tapi materi atau benda yang berpikir. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada, baru kemudian bisa timbul ide atau pikiran pada kepala manusia.

3 Aliran Pokok Aliran Materialisme :
1. Materialisme mekanik:
Materialisme mekanik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya mekanis. Ajaran materialisme mekanik ialah bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak atau berubah. Geraknya itu adalah gerak yang mekanis, artinya gerak yang yang tetap begitu saja selamanya seperti yang telah terjadi, atau gerak yang berulang-ulang seperti geraknya mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan.

2. Materialisme metafisik:
Materialisme metafisik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya metafisis. Ajaran materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap, tidak berubah selamanya. Tapi seandainya materi itu berubah, maka perubahan itu terjadi karena faktor luar atau karena kekuatan dari luar. Gerak materi itu gerak ekstern atau disebut gerak luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan yang terpisah-pisah, tidak mempunyai dan tidak ada saling hubungan antara yang satu dengan yang lain.


3. Materialisme dialektik:
Materialisme dialektik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya dialektis. Ajaran materialisme dialektik mengajarkan bahwa materi itu selalu saling punya hubungan, saling mempengaruhi, dan saling bergantung antara yang satu dengan yang lain. Bukannya saling terpisah-pisah atau berdiri sendiri. Materi itu juga selalu dalam keadaan gerak, berubah dan berkembang. Bukannya selalu diam, tetap atau tidak berubah.

ALIRAN IDEALISME

Idealisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari ide (gagasan). Idealisme memandang ide itu primer kedudukannya, sedang materei sekunder. Ide itu timbul atau ada lebih dahulu, baru kemudian materi. Segala sesuatu yang ada ini timbul sebagai hasil yang diciptakan oleh ide atau pikiran, karena ide atau pikiran itu timbul lebih dahulu, baru kemudian sesuatu itu ada.
Terhadap adanya pandangan yang demikian itu, Lenin dengan tajam mengkritik idealisme sebagai filsafat yang tanpa otak.
Filsafat idealisme mempunyai dua aliran, yaitu aliran idealisme obyektif dan idealisme subjektif.
Idealisme obyektif: Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik-tolak dari ide universil, ide di luar ide manusia. Menurut idealisme obyektif, segala sesuatu yang timbul dan terjadi, baik dalam alam maupun dalam masyarakat, adalah hasil atau karena diciptakan oleh ide universil.
Idealisme subjektif: Idealisme subjektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan pandangan idealismenya itu bertitik-tolak dari ide manusia atau idenya sendiri. Menurut idealisme subjektif, segala sesuatu yang timbul dan terjadi –baik dalam alam maupun dalam masyarakat– adalah karena hasil atau karena ciptaan oleh ide manusia atau oleh idenya sendiri.

ALIRAN DUALISME
Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme memandang bahwa materi dan ide itu sama-sama primernya. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada persamaan. Materi itu ada karena ada ide atau pikiran. Juga sebaliknya, ide atau pikiran itu ada karena ada materi. Tapi pada hakekatnya, pandangan dualisme yang demikian itu juga idealis, karena pandangan seperti itu tidak lain hanya pada ide, dan tidak ada dalam kenyataan.
Dengan begitu, Filsafat materialisme adalah filsafat yang obyektif. Sebaliknya, filsafat idealisme adalah filsafat yang subyektif karena pandangannya bertitik tolak dari ide atau pikiran.

Wallahu A’lam Bisshawaab……….